Kamis, 20 Oktober 2016

Review Anime : The Boy and The Beast.

"Guru yang baik adalah guru yang mengajar jujur dari hati."

Sebuah anime karya Mamoru Hosoda yang mendapat banyak sekali apresiasi. Sempat 3 tahun berhenti memproduksi sebuah karya, animator yang namanya diperhitungkan di Jepang ini mulai membuat lagi sebuah anime fantasi aksi di tahun 2015. Dan anime inilah yang akan kita ulas. Judulnya Bakemono No Ko/ The Boy and The Beast.



Sinopsis : 

Ren adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh orangtua angkat, namun ia memilih untuk kabur dari mereka. Dalam kesendiriannya di jalanan, ia bertemu monster besar yang mengangkatnya menjadi murid. Tentu saja Ren awalnya menolak. Namun, ia juga tak ingin kembali kepada orangtua angkatnya. Karena itu, Ren memutuskan mengikuti diam-diam monster tersebut, sampai akhirnya ia terdampar di dunia para monster!.

*

Sebuah anime fantasi aksi yang cukup seru dipadukan dengan komedi dan drama yang apik. Karakter Kumatetsu dan Ren dipikirkan secara matang. Kumatetsu yang serampangan dan sifatnya "monster" banget diadu dengan Ren yang logis dan sifatnya "manusia" banget. Keduanya selalu menghasilkan konflik adu mulut yang fun untuk ditonton. Beruntung ada si babi bijaksana dan si monyet yang selalu menjadi pemisah diantara keduanya (sumpah penulis lupa siapa nama mereka. Keduanya jarang disebutkan namanya).

Kumatetsu adalah seorang monster yang menjadi kandidat untuk calon Mahaguru. Mahaguru yaitu monster yang bisa bereinkarnasi menjadi dewa. Selain Kumatetsu, ada lagi seekor monster yang menjadi saingannya, yaitu Iozen, seekor monster babi hutan yang sifatnya berbeda 180 derajat dari Kumatetsu. Jikalau Kumatetsu adalah monster serampangan, jorok, dan liar, Iozen adalah monster yang baik hati, ramah dan menjunjung tinggi etika. Karena itu Iozen lebih banyak disukai monster-monster lain ketimbang Kumatetsu yang temannya cuma si babi bijaksana dan si monyet.

Jangan salah, Iozen disini bukanlah antagonis utamanya. Mungkin ia memang menjadi penghalang bagi Kumatetsu untuk menjadi mahaguru, namun tujuan utama film ini bukanlah Kumatetsu yang ingin menggapai impian. Ada sebuah tujuan lain di film ini, yang kalo disebutin nanti spoiler :)

Untuk lebih menghadirkan sisi kemanusiaan, anime ini menghadirkan satu heroine yang baru muncul ditengah-tengah film. Seorang anak SMA bernama Kaede yang punya masalah keluarga. Ekspektasi berlebihan yang dibebankan padanya oleh orangtuanya selalu membuat dirinya sesak. Kehadiran Kaede menambah warna baru lagi di anime ini. Shout out buat Mamoru Hosoda yang sudah membuat karakter Kaede :)

Ada dua pesan moral yang penulis ambil dari film ini. Pertama, setiap manusia pasti punya sisi gelap yang harus bisa dikontrol. Kedua, hubungan keluarga itu adalah tentang ikatan dan sifat saling memiliki, bukan hanya hubungan darah. Anime ini memang banyak mengajarkan soal kekeluargaan. Keluarga yang terlihat sempurna di luar ternyata punya sisi gelap didalamnya. Kejujuran, meskipun menyakitkan, haruslah tersampaikan dan ada didalam keluarga. 

Jumat, 07 Oktober 2016

Review Anime : Anthem of The Heart. Words May Never Hurt You... Guys :')

Ohayouu... This fall, penulis bakal review anime movie yang mungkin kurang dapet banyak apresiasi dari penggemar anime. Kenapa kurang?, penulis juga gak tahu pasti. Karena begitu penulis tonton animenya, bener-bener bagus dan nyata banget. Anime bertema drama ini banyak menggambarkan masalah-masalah yang terjadi di kehidupan nyata. Kalau kalian penggemar film bertema drama, bolehlah ditengok anime yang diarahi Tatsuyuki Nagai ini, yang juga membuat anime berjudul AnoHana... :)



Sinopsis :

Seorang gadis kecil dikutuk agar ia tidak bisa bicara lagi. Namun, kehidupan SMA-nya membuatnya berubah dan ia mulai bisa bicara lagi dengan mengungkapkan isi hatinya melalui sebuah lagu.

*

Sebuah karya slice-of-life yang menarik. Anthem of The Heart ingin mengungkapkan bahwa sebuah kata-kata bisa saja melukai orang lain. Beautiful lies versus ugly truth. Jun Naruse, karakter utama kita yang cerewet dan jujur, malah terlukai karena ia berkata hal yang sesungguhnya. Ia sampai dikutuk karena selalu banyak bicara. Padahal, apa yang ia ungkapkan berasal dari kesungguhan hatinya.

Drama memang ditekankan pada konflik yang dialami Jun, namun adapula drama selipan yang dialami Daiki, Takumi serta Nito. Daiki adalah seorang atlit baseball sekolah yang mengalami patah tulang di tangan kanannya. Ia memang merasa bersalah, namun ia malah memarahi junior2nya untuk lebih keras lagi dalam berlatih, karena ia ingin timnya menang meskipun tanpa dirinya. Junior2nya merasa kesal akan sikap Daiki. Namun, mereka lebih memilih diam dan dongkol dalam hati.

Takumi dan Nito punya konflik yang cukup unik. Mereka sebenarnya berpacaran dari SMP, namun Takumi tidak pernah sekalipun menganggap mereka pacaran. Nito masih beranggapan bahwa ia dan Takumi adalah pasangan, namun Nito bahkan tidak tahu apapun tentang Takumi. Nomor hapenya, tempat tinggalnya, sampai hobinya pun Nito tidak tahu. Tidak berarti Nito adalah cewek freak, sebenarnya kedua orang ini, Nito dan Takumi, bersalah (pacaran tapi statusnya gak jelas) karena mereka jarang sekali ngobrol. Lagi-lagi hal yang berhubungan dengan bicara. Sama seperti konfliknya Jun dan Daiki.

Jun punya konflik batin yang cukup serius. Ia menganggap kecerewetannya adalah penyebab ayah dan ibunya cerai. Ibunya yang mengurus Jun pun, selalu memarahinya karena gosip tetangga tentang Jun.

Jun yang melihat Takumi bermain akordion (gak tahu nama instrumennya apaan -__-) membuatnya sadar, bahwa ia mungkin tidak bisa bicara, namun ia yakin kutukannya tidak akan mempan ketika bernyanyi. Ia akhirnya mencurahkan isi hatinya ke Takumi. Takumi pun akhirnya membuat lagu untuk drama musikal yang diselenggarakan Himpunan Siswa Bakti Sosial tersebut.

Secara grafis, anime ini bener-bener bagus. Wajar karena staf yang membuat anime ini adalah staf yang sama yang membuat anime AnoHana. AnoHana punya grafis yang baik, dan hal itu menular juga ke Anthem of The Heart.

Penulis bener-bener puas nonton Anthem of The Heart. Worth it banget, ceritanya lumayan bagus, dan pesannya sampai ke penonton. As my father always said, stick and stone may break my bones. But words may never hurt me.