Senin, 09 Juli 2018

Review Film: Ant-Man and The Wasp. Kokoh Tanpa Infinity War

Selepas Infinity War, mungkin produser Marvel sudah lepas dari tanggung jawab membuat "make it most bad-ass, most thrilling, and our best" film. Karena Ant-Man and The Wasp adalah film yang bisa dibilang cukup enteng.

Ant-Man and The Wasp adalah film yang bisa dibilang berdiri sendiri. Latar waktunya adalah selepas Captain America: Civil War. Jadi gak heran kalau ada banyak kejadian di Civil War yang diceritakan di film ini.

Kenapa judulnya saya bilang "Kokoh Tanpa Infinity War?". Karena memang gak ada sama sekali insiden Infinity War yang disebut di film ini. Mungkin, ketika Avengers lain sedang sibuk-sibuknya melawan Thanos, Ant-Man dan The Wasp lebih sibuk nyari ibunya Hope barengan sama Hank Pym.
Insiden di Infinity War sendiri baru disebut pas after credit title.

Bercerita tentang Scott Lang yang menjadi tahanan rumah karena insiden membantu musuh negara, Captain America. Selama dua tahun pasca Civil War, Lang dipaksa mendekam di rumahnya 24 jam sehari.

Sementara itu Hope dan Hank yang mengetahui bahwa Scott Lang bisa selamat dari alam kuantum, berusaha untuk menemukan Janet, istri Hank dan ibunya Hope. Mereka berharap bahwa Janet bisa jadi masih hidup. Scott Lang saja bisa selamat, kenapa Janet tidak?

Lang sendiri mengetahui bahwa selama di alam kuantum, ia diberikan pesan dari Janet. Dengan bantuan Lang, Hope dan Hank berusaha mencari tahu lokasi Janet selama berada di alam kuantum. Usaha mereka sendiri tidak mudah. Selain sangat sulit mencari lokasi manusia yang berada di alam kuantum, mereka juga harus berhadapan dengan Ghost, seorang wanita yang punya sel tidak stabil. Hal ini membuatnya dapat menembus material padat.

Ant-Man mungkin berbeda dari Black Panther. Jika Black Panther adalah film yang serius, layaknya Winter Soldier, maka Ant-Man menyuguhkan guyonan yang cukup banyak, meski tidak sebanyak Thor:Ragnarok. Apakah film ini menurut saya bagus? Decent. Karena nanggung sekali filmnya. Saya gak tahu apakah karena Infinity War yang membuat film ini kelihatan "receh", tapi memang saya tidak melihat ada yang menonjol sama sekali di film ini. Even Dr. Strange masih terlihat lebih bagus menurut saya.

Satu kesamaan film ini dengan Black Panther adalah film ini mengangkat tema keluarga. Kita bisa lihat kedekatan Scott Lang dengan putrinya, Cassie disini. Kita bisa lihat perjuangan Hope dan Hank menemukan Janet disini. This film is all about finding Janet. Antagonis di film ini cuma layaknya batu ganjalan. Ghost dan Burch, bahkan FBI, hanyalah batu besar yang menghalangi Hope dan Hank dengan Janet. Mereka bukan Thanos yang menjadi antagonis utama.

Harus ditonton atau enggak? Menurut saya sih pilihan saja. Film ini gak ada hubungannya sama Infinity War (kecuali after credit title), jadi kalian yang gak nonton Infinity War, asalkan nonton Ant-Man yang pertama dan Civil War, bakalan tetap nyambung sama film ini.

Overall, film ini menghibur kok. Scott Lang dan Luis jadi sumber komedinya disini. Luis ini ibarat Ned aja kalau di Spiderman. Partner manusia yang kerjaannya melawak.


Minggu, 27 Mei 2018

Madrid Berhasil Menghukum Liverpool Tanpa Salah

Real Madrid berhasil mengukuhkan gelar juara Liga Champions-nya yang ke 13 setelah berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor cukup telak, 1-3. Dua gol dari pemain pengganti, Gareth Bale melengkapi gol pertama Benzema pada laga kali ini untuk Madrid. Sadio Mane mencatatkan namanya di papan skor dengan mencetak satu-satunya gol untuk Liverpool malam itu.

Di awal laga, Liverpool nampak sangat menguasai permainan. Mereka menekan Madrid dengan taktik Gegenpressing andalan Klopp. Madrid namun masih cukup tenang untuk mampu bertahan dari gempuran Salah cs.

Menit 29 adalah salah satu momen menegangkan. Salah keluar dari pertandingan lebih cepat karena cidera di bahu kirinya ulah pemain bertahan Madrid, Sergio Ramos. Entah mengapa ketiadaan Salah di lini depan membuat Madrid menjadi lebih menguasai pertandingan. Adam Lallana masuk menggantikan Salah.

Beberapa menit kemudian, cidera menghampiri pemain bertahan Madrid, Daniel Carvajal. Bek kanan asal Spanyol itu juga terpaksa ditarik keluar. Ketidakhadirannya diisi oleh bek Spanyol lainnya, Nacho Fernandez. 45 menit babak pertama skor masih 0-0.

Babak kedua laga berjalan semakin intens. Kedua tim saling serang. Gol akhirnya datang di menit ke-55 ketika Loris Karius melakukan blunder fatal. Ia hendak melakukan passing kepada Dejan Lovren (atau Alexander-Arnold), namun tidak melihat Karim Benzema yang berada persis di depannya. Striker asal Prancis melakukan blok terhadap passing Karius. Bola akhirnya meluncur ke dalam gawang. 1-0 untuk Madrid.

Gol untuk Liverpool datang 5 menit setelah gol Benzema. Berawal dari sepak sudut, Van Dijk berhasil mengalahkan Ramos dalam duel udara. Bola liar hasil tandukan Van Dijk diteruskan oleh Sadio Mane ke dalam gawang. Gol tersebut membumbung asa Liverpool untuk mengejar kemenangan.

Kedua tim yang sekarang dalam posisi seimbang, kembali melancarkan serangan antar keduanya. Menit 60, Isco ditarik keluar digantikan Gareth Bale.

Gol kedua Madrid berawal dari Marcelo yang melakukan overlap. Alexander-Arnold waktu itu berdiri agak ke tengah lapangan untuk merapatkan lini tengah. Hal ini dikarenakan banyak pemain Madrid kala itu persis di depan gawang. Casemiro mengumpankan bola ke Marcelo. Dengan cerdik Marcelo melakukan umpan lambung ke kotak pinalti. Gareth Bale yang waktu itu tanpa kawalan, berhasil melakukan tendangan salto yang cantik. Karius tidak kuasa menahan tendangan Bale. 2-1 untuk Madrid.

Keunggulan gol tidak membuat Madrid mengendurkan serangan. Malah, serangan mereka semakin intens. Berkali-kali Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo melakukan ancaman dengan solo run mereka. Namun kedisiplinan pemain bertahan Liverpool membuat gawang Karius aman, setidaknya untuk sementara.

Gol ketiga Madrid akhirnya datang juga. Bale yang berada di posisi kanan melakukan dribble ke tengah dan melepaskan tendangan jarak jauh. Bola sebenarnya berhasil ditepis oleh Karius, hanya saja tepisan bola tersebut mengarah kedalam gawang. 3-1 adalah akhir untuk Liverpool.

***

Yang saya lihat pada laga malam tadi adalah ketidak-hadiran Salah yang membuat Liverpool seakan tidak nyaman untuk melakukan serangan. Adam Lallana memang pemain yang cukup bagus, namun ia tidak bisa mengimbangi kecepatan Mane dan Firmino ketika melakukan serangan. Marcelo juga semakin nyaman untuk melakukan overlapping. Liverpool seakan tidak mengantisipasi permainan jika Salah tidak ada.

Saya sangat mengagumi permainan Sadio Mane, serta kuartet lini pertahanan Liverpool malam itu. Mane seolah tanpa henti berlari. Ia rajin membantu pertahanan. Ia juga sangat konsisten mengecam pertahanan dari sisi manapun. Nacho seolah tidak diberi kebebasan untuk melakukan overlap.

Dejan Lovren dan Trent Alexander-Arnold cukup baik dalam menjaga Ronaldo malam itu. Ronaldo tidak diberi sekalipun kebebasan untuk melakukan shooting. Andrew Robertson juga rajin membantu Mane/Lallana dalam overlap dan bertahan. Van Dijk sangat tangguh dalam duel udara.

Namun pemain Madrid juga patut diberikan kredit. Saya melihat Varane dan Ramos yang cukup tenang dalam melakukan passing meskipun digempur oleh lini serang Liverpool. Modric dan Kross bermain brilliant seperti biasanya. Ronaldo masih menjadi ancaman nyata bagi Liverpool meskipun ia seolah tidak terlihat malam itu. Marcelo adalah bek kiri yang sangat-sangat baik dalam melakukan serangan. Gareth Bale adalah aktor utama, yang meskipun bermain dari bangku cadangan, memberikan 2 gol penentu pada laga kali ini.

Pada akhirnya, Liverpool kalah karena mentalitasnya. Madrid memang tidak dominan pada laga malam itu, namun mereka menunjukkan siapa Mr. Final sesungguhnya. Siapa tim terbaik sesungguhnya. Madrid berhasil mengganti Isco yang malam itu bermain buruk, dengan Bale yang mencetak 2 gol. Liverpool sementara itu mengganti Salah dengan Lallana, yang sesungguhnya tidak buruk, hanya saja tidak sebaik Salah dalam menyerang. Kesiapan Madrid sudah tak perlu dipertanyakan pada laga malam ini. Mereka layak menang, dan mendapatkan gelarnya yang ke-13.


Jumat, 11 Mei 2018

Revolusi City Dimulai Dari Yaya Toure

Semenjak saya masih kecil, saya hanya tahu 1 klub saja di kota Manchester, yaitu Manchester United. Mungkin ada banyak klub yang berpusat di kota pelabuhan Inggris ini, baik itu bermain di Premiere League, maupun liga-liga di bawahnya. Mungkin, jumlah klubnya bisa puluhan, namun saya hanya mengenal Manchester United.

Manchester United seolah tidak punya tim sekota yang bisa menandingi superioritasnya. Liverpool bisa punya Everton yang meskipun klub papan tengah, terkenal dengan julukan giant killer. Arsenal punya Tottenham Hotspur serta Chelsea yang merajalela semenjak Abramovic menginjakkan kakinya di London Barat. Manchester United? mereka adalah raja di kotanya sendiri. Kalaupun ada yang bisa meluluhlantakkan ke-superioritasan Manchester United, mungkin klub-klub besar dari kota lain seperti yang saya sebutkan di atas.

Namun, semenjak Syeikh Mansyour menanamkan uangnya di sebuah klub bernama Manchester City, semua berubah. Dibangun secara perlahan namun mantap, City mulai mencoba mengganggu dominasi United. Dibelinya pemain-pemain berkualitas dari seluruh penjuru dunia, mengontrak manajer bagus, mencari talenta-talenta muda nan berbakat di seluruh dunia, membangun infrastruktur klub, semuanya Syeikh Mansyour lakukan untuk merobohkan dominasi United di kotanya sendiri.

Sejujurnya revolusi itu sudah terlihat semenjak tahun 2011, kali pertama City menjuarai Piala FA setelah sekian lama. Yaya Toure, pemuda asal Pantai Gading yang dibeli dari Barcelona kala itu, menjadi seorang revolusioner yang membawa City menang atas United di semifinal Piala FA 2010-2011. Lebih sensasional bagi gelandang bernomor punggung 42 tersebut, ia juga yang mencetak gol di Final Piala FA.

2011-2012 menandai kebangkitan Manchester City setelah klub tersebut menjuarai Liga Premier Inggris setelah sekian lamanya juga. Berkat Yaya Toure, serta nama-nama lain seperti Aguero, Tevez, Kompany, Silva dll, City sudah memberi peringatan keras pada MU. Musuh sekota kalian sudah muncul. United tidak lagi mendominasi kota Manchester.

United mungkin memenangkan lagi gelar Liga Premiernya yang ke-20 pada musim selanjutnya, namun setelah itu, piala EPL tidak pernah lagi mampir ke Old Trafford. 2013-2014, City memenangkannya, 2014-2015 mampir ke Chelsea, 2015-2016 adalah kejutan karena Leicester berhasil memenangkan gelar Liga Premier Inggris, 2016-2017, Chelsea berhasil memenangkannya kembali, dan musim ini, City juga kembali merengkuh gelar juara liganya yang ke 5.

City menjadi seperti sekarang, sebagian besar adalah andil para pemain. Dan Yaya Toure adalah salah satu orang yang membuat City layaknya City yang sekarang. Klub yang selalu menjadi favorit juara liga setiap musimnya, serta tim yang layak disegani di Eropa.

Yaya Toure sudah menghabiskan 7 tahun masa baktinya di City, dan mulai musim depan, adik dari Kolo Toure tersebut tidak akan lagi mengenakan kostum bernomor punggung 42 dengan logo Manchester City di dada kirinya. Alasan beliau memutuskan pindah, konon katanya karena dirinya sudah tidak lagi menjadi bagian dari tim inti di Manchester City. Pep Guardiola, manajer City yang sekarang nampaknya enggan memasukkan Yaya di skema rencananya. Yaya yang pernah bekerjasama dengan Pep di Barcelona, mungkin paham maksud manajer klubnya tersebut.

Farewell, Yaya Toure. Jasamu di City akan selalu dikenang. Engkau adalah revolusioner yang berhasil meruntuhkan digdaya United di Manchester. Salah satu gelandang pekerja keras terbaik yang pernah dimiliki City. City tidak akan (semoga demikian) melupakanmu :)

Selasa, 01 Mei 2018

Review Film: Avengers Infinity War.

2008, Iron Man yang pertama tayang, dan gak ada satu pun orang yang menyangka kalau akan ada Avengers. Sampai ke tahap ini pun mungkin tak terbayang. Thanks to Russo Brother, film ini exist.

Menonton film ini adalah menyaksikan 10 tahun tumbuh kembangnya Marvel Cinematic Universe. Serius deh. 10 tahun Marvel membuat MCU adalah memberikan karakteristik untuk masing-masing superhero di film ini. 2,5 jam film adalah full aksi non stop dan gak perlu lagi pakai perkenalan karakter. Masa bodoh dengan introduction Avengers. Sebagai gantinya dari menit sangat awal kita sudah disuguhkan sang villain sejati di film ini, Thanos. What a man.

Makanya di film ini kita akan selalu ketemu sama pria botak ungu yang badannya hampir segede Hulk tersebut. Thanos diberi banyak sekali porsi waktu. Kita akan dikenalkan secara mendalam siapakah dia, apa tujuannya, dan bagaimana wataknya. Saya suka sekali bagaimana CGI berperan di film ini. Thanos terlihat sangat manusia lewat actingnya Josh Brolin. Begitupun latar tempat, khususnya di luar planet bumi yang artistik sekali. 

I like how Russo brothers make this film so dark, but yet still have comedy in it. Jujur saya lebih suka film Marvel dengan gaya seperti ini. Perasaan kita dibuat campur aduk. Senang, tawa, terkejut, sedih, semua dikemas dengan rapi dalam film ini. 

And for closing:
1. saya suka rambut Natasha yang baru
2. saya suka Captain America muncul lagi setelah sekian lama dengan jenggot barunya
3. This is Thanos movie. Not Captain America, not Iron Man, not Thor.
4. Wakanda Forever!
5. This is minor spoiler but Star Lord giving middle finger is my favorite moment in this film
6. Thor is the strongest Avenger
7. Tom Holland rocks it with his oscar-performance acting.

Senin, 23 April 2018

Review Film: The Commuter. Upaya Menghancurkan Liam Neeson

Sebagai pecinta film aksi, saya jujur sangat ingin menonton film Commuter di bioskop, apalagi pemeran utamanya adalah salah satu aktor favorit saya, Liam Neeson. Namun karena satu dan lain hal, saya tidak sempat menonton Commuter di bioskop. Alhasil, saya menunggu filmnya keluar di pasaran.

Sebenarnya, Commuter layaknya film aksi biasa yang sering nongol di layar kaca setiap jam 9 malam. Berbekal genre case-solving dibalut aksi, film ini nampak seperti film Liam Neeson pada umumnya. He's doin his best. Ini memang tipikal film yang paling bagus kalau Liam Neeson yang main.

Commuter bercerita tentang Michael McCauley, seorang pria paruh baya dengan istri dan satu anak remaja yang sudah hendak berkuliah. Setiap harinya selama 10 tahun, di jam yang sama di pagi dan sore hari, Michael selalu naik kereta pendek cepat (commuter) untuk pergi dan pulang kerja. Ia sampai hafal nama-nama penumpang reguler yang biasa bepergian/pulang bersamanya, dan tukang ambil tiket di kereta tersebut.

Sampai suatu hari ketika ia pulang kerja, ia bertemu seorang wanita misterius yang memintanya melakukan sebuah eksperimen. Ia diberi uang senilai 25 ribu dolar yang diletakkan di sebuah toilet, namun dengan syarat ia harus menemukan seorang penumpang misterius. Situasi semakin menjadi rumit ketika keluarganya diancam untuk dibunuh jika ia tidak segera menemukan penumpang tersebut.

Sebenarnya saya sudah menduga karakter Liam Neeson ini. Saya yakin ia bukan petugas asuransi biasa, yang ternyata ia adalah mantan polisi. This film is just like Taken, but in simpler way. Latar tempat yang 95% berada di kereta membuat film ini menjadi simple dan enteng. Yang membuatnya rumit sebenarnya hanya latar belakang kenapa penumpang misterius ini dicari. Dan tidak tahu pun tidak apa-apa, karena bukan itu esensi sebenarnya dari film ini. 

Liam Neeson berakting bagus seperti biasanya, dan sisanya i don't care HAHAHAHAHA.

Film ini cocok kalian tonton kalau lagi gabut dan pengen aksi ringan. Dan sedikit mengobati rasa rindu liat opa Liam Neeson. 


Jumat, 06 April 2018

Review Film: Three Billboards Outside Ebbing Missouri


Iklan, sebenarnya adalah sarana promosi untuk menawarkan barang, jasa, tempat usaha, ide dan hal-hal lain sebagai tujuan untuk dilihat khalayak ramai. Iklan juga bisa dipakai untuk menyampaikan pesan. Biasanya pesan ini berupa layanan masyarakat atau hal-hal lain yang tujuannya untuk membantu masyarakat. Tapi bagaimana jadinya jika iklan dipakai untuk menunjukkan kritik?

Mildred Hayes di film ini melakukan hal tersebut. Ia melihat tiga papan reklame yang tak terpakai di sebuah jalan dan dibelinya hak sewa papan reklame tersebut untuk menyampaikan keluh kesahnya. Tak main-main, keluh kesahnya itupun fenomenal. Bunyinya seperti ini:

"RAPED WHILE DYING"

"AND STILL NO ARREST?"

"HOW COME, CHIEF WILLOUGHBY?"

Keluh kesahnya ini berkenaan dengan kejadian yang menimpa putrinya, Angela Hayes, yang tertimpa kejadian pemerkosaan sekaligus pembunuhan. Pembunuh putrinya itu tidak tertangkap-tangkap sampai sekarang. Mildred menyayangkan polisi, sebagai pihak berwenang yang tidak sangat tanggap untuk mencari pelakunya. Chief Willoughby, kepala polisi di daerah Missouri, ia tuding tidak becus dalam pekerjaannya untuk menangkap pelaku tersebut.

Ketika cerita berjalan, ada beberapa orang yang setuju dan tidak setuju atas aksi Mildred ini. Kebanyakan tidak setuju, termasuk anak lelakinya, Robbie. Namun Mildred masih melanjutkan aksi kritiknya tersebut.

Polisi disini juga bukannya antagonis. Willoughby adalah seorang kepala polisi yang bijaksana. Ia berusaha bersikap tenang atas apa yang Mildred lakukan. Ia punya keyakinan kepada Dixon. Willoughby sebenarnya adalah korban. Bukan korban atas apa yang Mildred lakukan, namun korban atas apa yang Angela Hayes alami.

Yang saya sukai dari film ini sebenarnya adalah perkembangan karakter Dixon. Mungkin perkembangannya terasa sangat cepat, namun kita jadi bisa tahu seberapa pentingnya karakter Willoughby untuk Dixon. Di awal film, Dixon terasa seperti antagonis, karena segala sifat polisi jahat yang ia miliki, namun Dixon berubah ketika ia menunjukkan sikap maafnya ke Red Welby, teman sebayanya, serta kemunculan 2 orang meksiko di bar. Ada rasa iba yang tertanam ketika kita melihat perubahan karakter Dixon.

Badaimana dengan Mildred? Sepanjang film, wanita ini terus-terusan dengan sikapnya yang pelit senyum dan suka ngata-ngatain orang. Sikap bahagianya bahkan ditutupi dengan sengaja oleh camera ketika dia tahu temannya Denise keluar dari penjara. Senyum Mildred baru keluar di bagian terakhir film, ketika dia dengan Dixon melakukan perjalanan untuk "membunuh" pelaku yang diduga melakukan pemerkosaan.

Yang saya tangkap, sesungguhnya Dixon dan Mildred butuh satu sama lain untuk melengkapi mereka. Hanya saja butuh perubahan karakter untuk melakukan itu. Mildred hanya butuh seseorang yang sangat serius untuk menuntaskan kasus anaknya. Sementara Dixon? Ia hanya ingin menjadi polisi yang baik seperti apa yang Willoughby katakan di surat terakhirnya.

Kalau kalian berpikir bahwa film ini adalah film detektif, kalian mungkin akan kecewa. Awalnya saya berpikir demikian karena mungkin pelakunya akan tertangkap. Rupanya Three Billboards hanya ingin menunjukkan dramanya. Three Billboards mungkin terasa seperti 13 reasons why versi pembunuhan.

Frances McDormand memerankan Mildred dengan sangat-sangat baik dan layak mendapatkan penghargaan aktris terbaik Oscar. Begitupun Sam Rockwell yang ciamik memerankan Dixon (Mendapatkan penghargaan aktor pendukung terbaik). Saya suka melihat acting Frances McDormand sebagai wanita kuat nan mandiri. Sungguh solid sekali apa yang ia lakukan di Three Billboards.

Sabtu, 24 Maret 2018

Melirik Bomber Jerman

Juara bertahan Piala Dunia sepertinya datang ke Russia dengan misi yang sama sekali tidak mudah, mempertahankan gelar mereka. Bicara soal mempertahankan gelar, tentunya hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan mempertahankan skuad juara mereka, dan Joachim Loew sang jenderal mungkin masih bisa bernafas lega karena hampir seluruh pemain yang memenangkan Piala Dunia tahun 2014 kemarin, masih berstatus aktif dan tidak mengalami penurunan kemampuan.

Dari posisi kiper, Manuel Neuer sebenarnya masih bisa bermain andaikan ia tidak cidera. Akan tetapi Jerman tidak perlu khawatir karena Marc Andre ter Stegen mempunyai kualitas yang mirip dengan seniornya tersebut.

Untuk bek tengah, duet Jerome Boateng-Matt Hummels juga masih bisa dimainkan. Bek sayap yang ditinggal Phillip Lahm dan Benedikt Howedes, sementara itu, digantikan oleh Kimmich dan Hector.

Untuk gelandang tengah, meskipun ditinggal Schweinsteiger pasca pensiun, Khedira dan Kross masih bisa bermain. Oezil, Goetze, Muller serta Draxler juga masih punya kualitas untuk memakai seragam Der Panzer.

Yang kritis adalah posisi penyerang utama di starting 11 timnas Jerman. 4 tahun lalu, Loew hanya membawa Miroslav Klose dan Lukas Podolski. Sekarang Klose sudah gantung sepatu, sementara Podolski memilih pensiun di timnas Jerman dan menikmati sepakbolanya di daratan Jepang. lantas siapakah bomber utama Jerman di Russia nanti?

Saya jarang sekali menonton Bundesliga, jadi saya kurang tahu siapa striker Jerman yang sedang on-fire untuk sekarang. Maka, cara saya mencari kandidat yang cocok adalah dengan melihat daftar top scorer di Bundesliga, dimana banyak pemain Jerman disana. Sumber yang saya pakai adalah BBC.com

Dengan 23 gol, Lewandowski memimpin sendirian di daftar tersebut. Aubameyang yang sudah pindah ke Arsenal bulan januari lalu, berada di peringkat kedua dengan 13 gol.

Barulah saya melihat pemain berkebangsaan Jerman di peringkat ketiga. Nils Petersen namanya. Pemain 29 tahun ini sudah melesakkan 13 gol, jumlah yang sama seperti Aubameyang. Yang membedakan ialah jumlah assistnya. Nils baru menorehkan 1 assist, sementara Auba sudah 3 assist.

Yang mengherankan adalah Nils Petersen tidak dipanggil ke 23 nama pemain yang dipanggil Joachim Loew di international match minggu ini. Padahal, dibandingkan nama striker-striker Jerman lain yang dipanggil, Nils melesakkan lebih banyak gol.

Peringkat ke-empat adalah striker yang digadang-gadang akan menjadi striker inti timnas Jerman di Russia nanti, Timo Werner. 11 gol yang ia sarangkan jumlahnya sama dengan Alfred Finnbogason dan Michael Gregoritsch di peringkat 5 dan 6. Werner, hanya unggul 1 assist dibandingkan dua pemain terakhir.

Striker Leverkusen, Kevin Volland menjadi pemain Jerman ketiga di daftar ini. Volland sudah menyarangkan 10 gol, beda 1 gol dengan Werner. Volland juga tidak dipanggil ke International Match.

Kemudian jika kita melihat striker lain yang dibawa Loew ke international match, kita bisa melihat Sandro Wagner, yang baru menyarangkan 8 gol, serta striker kawakan, Mario Gomez dengan hanya menjalakan 7 gol.

Dengan jumlah gol seperti ini, kita bisa melihat betapa kurangnya kualitas lini serang timnas Jerman. Harapan pencetak gol utama mereka bergantung kepada pria berumur 21 tahun yang baru menyarangkan 11 gol di liga, penyerang cadangan Bayern Munchen, serta penyerang berumur 32 tahun yang kualitasnya diragukan. Kasarnya, mungkin penyerang timnas Mesir, Mohamed Salah, bisa menyarangkan gol sejumlah ketiga orang itu jika digabungkan.

Namun membicarakan gol, bukan hanya bisa dilakukan oleh seorang striker. Jerman punya stok gelandang berkualitas yang melimpah. Loew, memanfaatkan hal ini dengan membawa banyak sekali gelandang pada piala dunia 2014. Dengan hanya menyisakan Podolski dan Klose  di lini depan, mereka merajai kompetisi paling akbar sedunia tersebut.

23 nama yang Loew bawa ke international match bisa saja berubah ketika Loew disuruh memilih 23 nama yang akan ia bawa ke Russia. Artinya, persentase kesempatan Nils Petersen atau Kevin Volland tidak dibawa ke Russia belum 0 persen.