Selasa, 15 Agustus 2017

Komedi Dalam Guardians Of The Galaxy Vol 2

Penulis emang telat banget nonton GoTG Vol2. Karena itu, daripada penulis bikin reviewnya (yang diantara dari kalian pasti udah tahu) akan lebih baik jika kita membahas salah satu aspek kuat yang bikin film ini sukses, komedi di dalamnya.

Penulis bisa bilang kalau GoTG 2 ini adalah film komedi terbaik sepanjang tahun 2017. Jokesnya fresh banget, entah komedi slapsticknya atau bahkan sekedar sarkastik. Dan hal yang membuat komedinya bagus jelas adalah karakter-karakter di dalamnya, yang hampir semuanya punya peran dalam komedi.

Hubungan benci-tapi-sayang antara Star Lord sama Rockets adalah salah satu yang bikin penulis terus ketawa. Gak tahu kenapa, mereka berdua adalah duet saling hina paling seru di film ini. Rockets mungkin adalah rakun yang jenius, tapi kalau Star Lord sudah membawakan jokes ala "bumi" karakter yang diisi suarakan oleh Bradley Cooper ini selalu keliatan bodoh. Gak cuma Rockets, Drax bahkan sampai Yondu pun dibuat bodoh sama Peter Quill.

Penulis juga suka sama jokesnya Drax yang dari awal sampe akhir mungkin kelihatan "receh". Tepuk tangan untuk Dave Bautista karena aktingnya sebagai Drax yang polos sukses membuat jokes recehnya menjadi hiburan tersendiri. Penulis yakin jokes ala Drax adalah jokes yang "semua umur". He talks about his nipples, his poo, his point of view about Mantis. Semua jokesnya adalah pandangan dari Drax yang ternyata gak sesuai sama bentuk badannya yang kekar.

Groot di komedi bisa berperan sebagai the bastard. Yang kerjaannya pas volume 1 mungkin penting, tapi di volume 2 gak ngapa-ngapain. Di awal film, semua kru GoTG sibuk ngelawan monster, Groot malah nari-nari, Gamora sibuk nyelamatin Drax, Groot malah duduk sambil makan cemilan, paling pecah adalah ketika Yondu dan Rocket dipenjara dan Groot disuruh mengambil sisiknya Yondu. Groot dengan polosnya membawa hal seperti meja besar, sampai jari manusia. Untuk penulis, Groot di film ini sangat bagus melakukan twist komedi. Pecah sekali.

Yondu di film ini mungkin cuma jadi pelengkap, tapi gak bisa dipungkiri Yondu punya sisi komedi juga di film ini. Meskipun gak sesering keempat karakter utama kita, Yondu menggantikan Gamora yang selalu serius sepanjang film sebagai one of the jokers.

Sebagai film aksi, GoTG punya laugh minute yang cukup banyak dan konsisten. By all honor, maaf untuk Ant-Man, posisinya harus digantikan oleh GoTG vol 2 sebagai film MCU terkomedi.

Rabu, 19 Juli 2017

How To Be A Great Dad Like Lavar 101

Siapa dari kalian penggemar basket yang tidak tahu Lonzo Ball?. 2nd Draft Rookie ini baru saja memenangkan Summer League MVP bersama Los Angeles Lakers dengan catatan statistik yang amat fantastis. Point Per Game-nya hampir menyentuh angka 20 dengan Assist dan Rebound yang cukup baik. Tak ayal para penggemar basket banyak yang mendukungnya menjadi favorit Rookie Of The Year. Padahal main di regular season pun belum...

Bicara Lonzo Ball secara tidak langsung kita akan teringat akan sensasi Lavar Ball, ayahnya. Lavar Ball mungkin akan selamanya dikenang sebagai talking trash nomor 1 sejagat basket. Padahal dirinya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di lapangan basket National Basketball Association. 

Lavar selalu bicara omong kosong. Pada malam Draft ia pernah berkata bahwa ia tahu anaknya akan bermain di NBA semenjak sang anak masih bayi. Ia juga bilang bahwa Lonzo akan membawa Lakers masuk Playoff (kita semua mungkin tahu apa yang terjadi pada Lakers musim lalu). Hal paling omong kosong adalah ia berkata bahwa ia lebih hebat daripada Michael Jordan. That's a whole new level of Bullshit. That was ... bullshit on bullshit. (WTF are you talking, author?)

Lavar secara langsung membuat dirinya dibenci oleh seluruh jagat per-bola basket-an (kecuali wartawan atau jurnalis, karena dirinya adalah berita). Pemain, para fans, sampai legend pun dibuat dongkol oleh sikap suka membualnya. Namun saya belum pernah dengar Lavar meminta maaf soal hal tersebut. He keeps talking shit over and over.

Penulis pun tidak tahu apakah Lavar juga dibenci oleh ketiga anaknya. Penulis akhirnya membaca di media sosial tentang hari ayah yang sudah berlangsung sebulan lalu. Dalam sebuah artikel tersebut terdapat video dimana Jonathan Isaac, De'Aaron Fox, Jayson Tatum, dan Lonzo Ball berbicara mengenai peran ayah mereka terhadap karir mereka hingga ke-empatnya masuk NBA. 

Lonzo sempat berujar bahwa ayahnya memang sudah dari dulu seperti itu. Lavar selalu memasang target tinggi untuk anak-anaknya dalam basket. Lonzo namun tidak pernah mengeluh. "I keep doing the thing i like" katanya.

Lonzo juga mengomentari bagaimana ayahnya suka melakukan talk trash. Baginya, ujaran ayahnya tidak begitu berpengaruh kepada kehidupan pribadinya. "He talks, i play" ucapnya lagi. 

***

Penulis pribadi tidak begitu suka dengan talk trash yang dilakukan Lavar. Bagi penulis, itu semua dia lakukan agar namanya semakin tersorot di media. Agar Brand-nya, Big Baller Brand, semakin terkenal. Lavar juga mungkin melakukan ini agar anaknya terhindar dari segala hiruk pikuk media massa. Supaya dia yang mendapatkan semua atensinya. Agar anak-anaknya hanya fokus pada satu hal : Basket.

Penulis memang tidak suka dengan talk trashnya Lavar, namun apa yang dia lakukan sebagai seorang ayah membuat penulis angkat jempol. Lavar mempunyai tiga orang anak yang kesemuanya sangat mahir dalam olahraga basket. Chino Hills adalah saksi kehebatan ketiganya. Kalian juga pasti sering lihat di meme bagaimana Lonzo, LiAngelo, dan Lamelo mempertunjukkan skillnya. 

Ketiganya mendapatkan full scholarship di Chino Hills. Lonzo dan LiAngelo mendapatkan beasiswa yang sama juga di UCLA. Lonzo pun berhasil menjadi 2nd Draft Pick tahun ini. Lantas apa yang mereka lakukan jika tidak ada Lavar yang mendukung penuh karir mereka?.

Lavar mungkin dibenci oleh begitu banyak orang karena omong kosongnya. Namun sebagai seorang ayah, Lavar tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Bayangkan Lavar memberi mereka makan, mengurus biaya hidup mereka, sampai akhirnya ketiganya (bisa dibilang) sukses menjadi atlit. As a man, he sure talks a lot of trash, but as a dad, he doing it very great...

Selasa, 11 Juli 2017

Review Film : The Invisible Guest.

Top-Class Thriller...

Penulis dapet film ini direkomendasikan oleh salah satu teman. Awalnya emang rada ragu karena film ini ternyata berbahasa Spanyol. Guess it's my first Spain movie ever. But let me tell you, sebagai film yang bukan film Hollywood, film ini benar benar juara. Bahkan beberapa film Hollywood bertema sama masih banyak yang tidak sebagus The Invisible Guest, atau Contratiempo dalam bahasa Spanyol.

Cerita berawal dari seorang wanita tua bernama Virginia Goodman yang mendatangi kliennya, Adrian Doria yang terkena kasus pembunuhan seorang wanita yang ternyata selingkuhannya di sebuah hotel kecil di Spanyol. Kasus Doria ternyata berawal dari 3 bulan lalu ketika dirinya dan selingkuhannya secara tidak sengaja membunuh seorang pemuda dalam kecelakaan tabrakan. Doria akhirnya menceritakan kasusnya secara lengkap agar dirinya terbukti tidak bersalah di pengadilan.

Film yang bertemakan thriller-suspense dengan durasi 1 jam 45 menit ini nggak berbau noir layaknya film thriller-suspense kebanyakan. Pengambilan angle, music, coloring dan lain-lainnya cukup baik layaknya film drama. Akting dari aktor dan aktrisnya juga gak jelek, seriusan. Penulis cukup suka sama akting dari aktor yang meranin Adrian Doria.

Film ini juga dibumbui plot-twist yang aneh, tapi bikin menganga. Like wow, i'm not even mad, that's amazing...

Harus nonton atau nggak?. Harus banget. Sebagai film yang bukan dari Hollywood, The Invisible Guest bener bener ngasih kita tontonan 1 jam 45 menit yang layak dan berkelas.

Bukan berarti film ini gak punya kekurangan loh ya. Satu hal yang bikin malas nonton film suspense adalah kita harus fokus pada detail (ini yang selalu diomongin sama Virginia, DETAIL!.) sekecil apapun dari film ini. Detail kecil namun penting ini nantinya akan dikuak satu persatu di akhir filmnya. Bad sidenya film ini juga bisa jadi datar di tengah-tengah, sehingga kita akan terlalu malas untuk attention to detail karena flat storynya.

But, overall, penulis kasih 8,8/10 untuk film bagus ini. Pure Class Thriller!

Jumat, 07 Juli 2017

Review Film : Spiderman : Homecoming.

Remaja tanggung yang bisa nembakin jaring melawan calon mertuanya yang punya sifat kleptomania...



Homecoming menurut penulis adalah salah satu film Marvel yang paling punya karakteristik. Film ini disesuaikan banget dengan pemeran utamanya, Peter Parker si remaja baru akil baligh yang kekinian tapi rada nerd. 

Awal-awal film dibuka dengan gaya vlogging yang dinarasikan dan divideokan sendiri oleh si Peter Parker. Dia dengan semangat nyeritain awal mula dia direkrut sama Tony Stark untuk ngelawan si Captain America, dibawa ke Berlin, sampai pas dia bener bener ngelawan si Captain America and friends...

Di film ini Peter Parker bener bener dibikin se-childish mungkin, namun punya emosi layaknya remaja awal. Peter gak terlalu suka dengan konsep "friendly neighborhood Spiderman" yang kerjaannya cuma standar satu kota. Peter ingin Spiderman lebih "go hard" layaknya Avengers yang menyelamatkan dunia. Yah, Black Widow yang gaweannya gitu gitu aja bisa masuk Avengers, masa dia nggak. Mungkin itu yang ada di pikirannya Peter...

Musuh di film ini adalah si Vulture. Mantan tukang gali-jual puing yang sekarang kerjaannya nyolong barang alien sama jualan senjata. Penulis suka banget sama Vulture ini. Seperti Iron Man versi steampunk dan punya sayap. Penulis yakin kalo si Vulture ini lawannya Iron Man, pasti filmnya gak nyampe 10 menit kelar, soalnya teknologinya udah beda. Hehehe...

Jangan samain film Spiderman ini sama 5 film Spiderman yang sebelumnya ya... Soalnya disini gak nyeritain awal mula kenapa si Peter Parker dapetin kekuatan supernya. Paman Ben juga gak pernah disebutin di film ini. Jangan pula kalian ngarepin adanya si Gwen Stacy atau Mary Jane atau Harry Osborne. Gak ada mereka semua di film ini. 

Karena ini film Marvel Cinematic Universe, gak seru kayanya kalo gak ada anggota Avengers. Tony Stark kadang kadang muncul buat ngasih petuah singkat ke Peter Parker. 

"Di dalam kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab yang besar!."

Bukan, Tony gak ngomong itu. Tapi mungkin maksudnya dia itu. Tony pengen Spiderman jadi "friendly neighborhood Spiderman" aja. Bukan "tukang-ngancurin-satu-negara-Sokovia-dan-gak-bertanggung-jawab-atas-jutaan-korban-jiwa Spiderman"

Harus nonton atau nggak?. Ya harus lah!. Disini kalian bukan hanya dikenalin sama "New member of Avengers" aja. tapi kalian juga bakal tahu gimana sih kelanjutan Avengers setelah hampir seluruh timnya bubar jalan gara gara si Kapten Amrik, meskipun cuma secuil cuil kecil kayak Menara Avengers yang udah jadi landmark tiba tiba dipindahkan. Film ini juga colorful banget, jadi cocok lah buat ditonton sama semua kalangan. Fresh jokes yang muncul dari si Peter Parker atau temennya, Ned juga jadi hal yang bikin Homecoming fun untuk ditonton setelah melepas penat.

Oh, karena ini film Marvel, udah pasti ada After Credit. Ditonton aja. Ada petuah bagus dari Captain America loh :D

Kamis, 06 Juli 2017

Review Film : A Silent Voice. Teruntuk Pelaku Bullying....

Kisah Sedih Si Gadis Tuli...



Bullying. Udah pasti banyak dari kalian yang tahu tentang arti kata-kata tersebut. Menurut kamus, Bully berarti mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah. Dengan kata lain, menyiksa orang-orang yang secara fisik lebih lemah daripada si pelaku...

Udah banyak film yang mengangkat tema ini. TV Series pun tak jarang mengangkat tema Bullying lewat drama romance. Namun, kebanyakan film/TV series mengambil sudut pandang si korban. Wajar, karena mereka adalah sisi yang paling bagus kalau dijadikan drama.

Tapi bagaimana kalau ada film yang mengangkat tema bullying, namun mengambil sudut pandang sang pelaku?. A Silent Voice adalah satu dari sedikit film unik tersebut.

Cerita sebenarnya berputar dari sisi Nishimiya Shouko, seorang gadis yang baru aja masuk sekolah dasar entah kelas berapa. Nishimiya ini unik, karena dia tuli. Ngomong pun gak begitu jelas. First impression satu kelas be like : What the f*ck this bitches doin?. Namanya juga anak SD, dikasih yang unik dikit langsung bertanya tanya...

Nishimiya awalnya punya banyak teman. Namun karena keunikannya ini, dan kesulitan berbicara dengannya, teman-teman yang lain pun menjauhinya. Ada satu orang yang ingin berteman dengannya, alhasil dikucilkan dua-duanya. Gitu terus sampai Nishimiya punya nihil teman.

Ada satu anak lelaki yang jahilnya setengah mampus, namanya Ishida Yashou. Ishida dari awal ngeliat Nishimiya udah jijik emang. Ishida suka tiba tiba teriak di kupingnya Nishimiya, ngejegal pas lagi jalan, disiram pake air keran, sampai dicopot dan dibuang alat bantu dengarnya. Kalian pas SD pasti pernah kayak Ishida gini, jahilnya gak ada obat...

Sampai suatu hari Nishimiya keluar dari sekolahan itu dengan alasan yang tidak diketahui. Karena saking jahilnya sama Nishimiya, Ishida dikucilkan dari pergaulan. Hidup memang berputar, sekarang Ishida yang kena getahnya. Dia yang disiram air keran, dia yang dijegal pas lagi jalan, sampai dia yang dilempar ke air kolam. Kasihan :(

Ishida jadi orang yang kuper. Dia sampai memutuskan buat bunuh diri saking gak kuatnya menjalani hidup dan bayangan masa lalunya. Tapi ternyata di SMA dia bertemu sama Nishimiya. Babak baru lagi bagi Ishida. Bisakah dia minta maaf akan dosa dosa di masa lalunya?.

A Silent Voice benar benar related dengan kehidupan penulis. Pasalnya penulis pernah menjadi Ishida yang tukang jahil. Emang gak sampai korbannya keluar dari sekolah sih. Tapi perasaan bersalahnya benar benar related. Ini dia salah satu kekuatan A Silent Voice, 2 jam 10 menit filmnya benar benar dimaksimalkan sampai masuk ke feelings penonton. Salut...

Grafisnya sungguh memukau. Penulis baru pertama kali nonton filmnya Naoko Yamada dan ini benar benar bagus dari sisi grafis. Jalan cerita juga oke dengan selalu memakai alur maju. Jarang sekali ada flashback panjang (atau malah gak ada?)

Penulis tapi kesel banget sama karakter Mashibu. Like what the hell he even doing?. Gak punya kesan apapun sama masa lalu Ishida. Nagatsuka yang orang luar masih mending karena jadi jembatan awal antara si Ishida sama kehidupan sosialnya. Mashibu lebih seperti random people yang masuk entah darimana dan ikut campur sama masa lalunya Ishida. Gak jelas abis...

But, overall... A Silent Voice adalah anime film yang sungguh apik. Rated 8,7/10...




Sabtu, 17 Juni 2017

Review Film : The Mummy

Mission Impossible vs Zombie.

First of all, buang jauh-jauh pikiran kalau The Mummy yang sekarang adalah sekuel dari The Mummy pas jamannya Brendan Fraser. Film ini jelas jelas berbeda dari The Mummy yang selalu menghiasi layar kaca jam 10 malem di TV Swasta. 

The Mummy menceritakan Nick dan Vail, dua orang tentara yang ditugaskan di Irak untuk berperang. Mereka selain berperang, juga menjarah dan hasil jarahannya dijual di pasar gelap. Singkat kata, Nick dan Vail menemukan sebuah goa yang cukup besar ketika tempat mereka dibom oleh Air Strike. 

Goa itu ternyata adalah kuburan dari penjahat kuno Mesir yang dikutuk kelama berabad-abad. Nick gak sengaja ngebangkitin dia. Dan mulailah petualangan dan keseruan The Mummy.

Kalau boleh jujur, The Mummy adalah film aksi-fantasi terbaik tahun 2017 menurut saya. Grafis yang benar-benar menjanjikan adalah point utama kenapa film ini sangat bagus. Mummy-nya juga dibuat dengan sangat bagus, terimakasih untuk desainer dan make-up artisnya. 

The Mummy ini adalah film perdana dari Dark Universe. Jadi jangan heran kalau endingnya sangat terbuka. Kalian juga bakalan liat peran yang sebenarnya gak ada hubungannya dengan alur cerita, namun terkesan sangat penting seperti Dr Henry Jekyll. Feeling penulis, Dr. Henry Jekyll ini bakalan kayak Nick Fury di Marvel Cinematic Universe. Atau si suster Claire Temple di serial Marvel Netflix.

Akting-akting aktornya ya standar aja. Tom Cruise mungkin gak kayak Brendan Fraser yang weird dan suka ngejokes disaat genting, dia lebih kayak Ethan Hunt di serial Mission Imposible. Vail bisa jadi adalah jokes utamanya. Meskipun dia terkesan kayak mayat hidup yang selalu ngarahin si Nick. Entah kenapa bawaannya ngeliat si Vail yang jadi mayat ini penulis malah pengen ketawa. Padahal mukanya serem dan lagi serius -_-

Oh btw, Sofia Boutella cantik banget meranin Ahmanet, baik yang masih hidup maupun yang udah jadi Mummy. Penulis kalo jadi Nick mendingan milih si Ahmanet jadinya dibanding Halsey hehehe...

Harus ditonton atau nggak?. Well, first impression dari Dark Universe ini udah sangat bagus dengan grafis art yang memukau dan aktor-aktor papan atas. Daripada kalian nonton film Dark Universe selanjutnya dan tiba-tiba gak ngerti karena gak tau ini siapa itu siapa, mungkin sebaiknya kalian tonton dulu film ini. Film ini juga gak terlalu berat kok. Nonton gak pake mikir pun bisa, dan sebaiknya begitu. Karena The Mummy menyajikan aksi-fantasi-supranatural yang sebenarnya sangat baik dengan sedikit celah...

Jumat, 16 Juni 2017

Opini Penulis : Lagu-Lagu Disney Terbaik.

Udah lama banget gak bikin artikel Opini. Kali ini penulis mau kasih opini tentang lagu-lagu dari film Disney yang menurut penulis terbaik...

Kalau kalian penggemar berat film Disney, kalian pasti tau kalau hampir semua filmnya pasti diisi dengan lagu-lagu. Kebanyakan film Disney memang mengambil genre Drama-Musical, namun tidak mengurangi esensi drama yang terkandung didalamnya. 

Saking hebatnya lagu-lagu Disney, beberapa lagu malah pernah memenangkan Grammy Awards atau Oscar sebaga Soundtrack terbaik. 

Lantas apa-apa saja sih lagu-lagu terbaik dari Disney, berikut beberapa pilihan penulis.

1. Circle Of Life - Lion King.

Circle of Life mengajarkan kita bahwa hidup adalah layaknya roda. Bahwa kita harus menemukan "jalan yang tak ujung berhenti" sampai kita menemukan tempat dimana kita harusnya berada. Di filmnya, lagu ini langsung diputar di awal awal. Background lagu ini juga cukup bagus dimana kita menyaksikan indahnya alam, kemudian sampai ke background legendaris dimana Rafiki mengangkat Simba kecil yang disaksikan seluruh penghuni Afrika.

2. A Whole New World - Alladin

Lagu di daftar kedua ini bisa dibilang salah satu lagu kesukaan penulis. A Whole New World menceritakan petualangan Alladin yang membawa Jasmine untuk melihat dunia memakai magic carpetnya. 

3. When You Wish Upon A Star - Pinnochio

Lagu ini adalah lagu paling legendaris di Disney. Pasalnya, kalian pasti akan selalu mendengar lagu ini setiap kali menonton film Disney, Di awal film Disney, biasanya kalian akan diperlihatkan istana Aurora dengan backsong lagu ini. When You Wish Upon A Star dinyanyikan oleh Jiminy Cricket di filmnya.

4. Colors of the Wind - Pocahontas

Penulis emang belum pernah nonton Pocahontas, namun lagu ini bener bener bikin kita untuk lebih lagi menghargai alam. Pocahontas mengajak Captain John untuk melihat sisi lain dari alam yang indah. Warna dari suara. 

5. Reflection - Mulan

Kenapa setiap kali Mulan melihat pantulan cermin, ia tidak melihat dirinya sendiri?. Reflection mungkin bukan lagu utama dari film Disney satu ini. Namun lagu yang dinyanyikan oleh Christina Aguilera benar benar punya arti yang dalam. 

6. I See The Light - Tangled

Rapunzel dan Flynn nyanyi di danau tentang bagaimana perasaan mereka berdua ketemu satu sama lain. Penulis bener bener suka bagaimana pasnya lagu ini menyentuh perasaan mereka berdua. Tipikal lagu Disney yang sekali didengarkan mungkin akan langsung suka.

7. Gaston - Beauty and The Beast.

Penulis gak masukin lagu Beauty and The Beast di film Beauty and The Beast. Instead, lagu Gaston penulis masukkan karena suasananya yang fun. Beda dengan lagu Beauty and The Beast yang menurut penulis "datar". Lagu yang menceritakan bagaimana hebatnya antagonis kita, Gaston dari sisi yang up-fun. Kalau kalian cari lagu antagonis disney lain, kalian bakal terkejut bagaimana fun-nya lagu Gaston :)

8. Hakuna Matata - Lion King

Hakuna Matata, jangan khawatir sama apa yang terjadi nanti. Timon dan Pumba selalu bilang itu adalah filosofi. Bagi penulis, Hakuna Matata adalah salah satu lagu tercerdas yang dibuat Disney. Musik dan liriknya sangat nyambung dengan apa yang Simba kecil alami, yaitu kabur dari kerajaannya ketika sang ayah meninggal dan ia tak tahu harus melakukan apa. Timon dan Pumba kemudian datang dan mengatakan dua kata yang paling dikenang sepanjang film Lion King...