Selasa, 10 Desember 2019

Review Film: Marriage Story. Perceraian Dua Insan Yang Manis.

"Jika pengacara kriminal mencari sisi baik dari seorang kriminal, maka pengacara perceraian melakukan sebaliknya"


Semua hal yang terjadi dalam pernikahan selalu menjadi hal yang privat, nampaknya. Jika kita melihat satu pasangan di tengah kota, mereka sedang makan malam berdua, diselingi dengan tertawaan yang mungkin atau bukan inside jokes, kita melihat mereka berdua nampaknya adalah dua pasangan yang bahagia, tapi benarkah mereka bahagia? Mungkin, mungkin tidak. Kita tidak pernah tahu. Apakah pria yang kita lihat sedang melemparkan gurauan itu mungkin tidak mencintai sang wanita? Atau sang wanita yang sedang tertawa ternyata balas melemparkan tawa palsu? Apakah mereka dalam hatinya saling mencintai satu sama lain? Sekali lagi, kita tidak pernah tahu.

Tema dua pasangan yang sudah menikah adalah satu tema yang dibawakan Noah Baumbach dalam film terbarunya, Marriage Story/ Film ini menceritakan tentang Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson), dua pasangan suami istri yang sudah 10 tahun menikah. Film diawali dengan

narasi monolog dari Charlie, yang menceritakan hal-hal baik tentang istrinya, seperti ia lebih suka mendengar, ibu yang baik untuk anaknya, dan hal-hal kecil seperti ia lebih kuat dalam pekerjaan kasar. Kemudian kita mendengar Nicole menceritakan juga hal-hal baik tentang Charlie, seperti ia sangat suka menjadi ayah, pria yang rapi dan bersih, juga orang yang cerdas.

Semua sepertinya terlihat sangat sempurna dari kedua monolog itu. Mereka mengesankan bahwa mereka adalah pasangan yang saling melengkapi dan saling tahu satu sama lain, sampai kita mengetahui bahwa narasi itu sebenarnya adalah keduanya yang saling menceritakan satu sama lain di tempat mediator perceraian. Mereka hendak bercerai.

Charlie dan Nicole, keduanya bekerja di tempat yang sama. Charlie adalah seorang sutradara theater dan Nicole adalah aktris theater. Mereka hidup dan tinggal di New York dengan putra satu-satunya kepunyaan mereka, Henry. Semula kita tidak mengetahui kenapa keduanya bercerai. Nicole terlihat seperti orang yang mengusulkannya, tapi dilihat dari sikapnya, kita tidak bisa mengetahui kenapa ia menginginkan perceraian itu. Charlie dilain pihak terlihat seperti pria yang tegar dan sangat dewasa menanggapi perceraian ini. Ia tidak pernah diperlihatkan sedih atau kesal atau marah. Dari narasinya, kita mengetahui bahwa Charlie adalah family-man minded. Semua terlihat sangat abu-abu di awal. Kita, belum mampu memutuskan berada di pihak siapa.

Sampai ketika Nicole menghampiri Nora, seorang pengacara perceraian, kita mengetahui alasan kenapa ia ingin bercerai. Lewat penampilan matang Scarlett Johansson, Nicole dengan apik menceritakan bahwa ia tidak merasa bebas sebagai seseorang setelah menikah dengan Charlie. Charlie digambarkan olehnya sebagai seorang pria yang sangat keras kepala dan terorganisir. Kebebasan dan mimpinya seolah terenggut oleh Charlie, namun lewat ceritanya itu ia juga tidak menggambarkan Charlie sebagai pria yang buruk-buruk amat. Saya sangat memuji penulisan apik film ini.

Hal yang paling saya puji dari film ini adalah acting kedua pemeran utamanya, Scarlett Johansson dan Adam Driver. Mungkin Scarlett sudah sangat lama berada di satu void bernama Marvel Cinematic Universe dan terombang-ambing disana tanpa arah, namun rupanya hal itu tidak membuat kemampuan actingnya menurun. Di film ini, kita seolah diingatkan kembali bahwa Scarlett adalah aktris papan atas dengan pengalaman yang tidak sedikit. Adam Driver mungkin adalah bintang yang baru-baru ini bersinar. Namanya baru terdengar setelah melakoni Kylo Ren di jagat film Star Wars episode The Force Awakens. Dalam film ini, Adam Driver terlihat mampu mengimbangi Scarlett Johansson. Actingnya cukup solid, begitupun Scarlett. Keduanya mencuri perhatian besar dalam film ini.

Dari segi cerita, sesungguhnya Marriage Story tidak terlalu membosankan seperti kata orang-orang. Dialog yang atraktif membuat film ini mempunyai demografik yang naik turun. Kadang ada bagian membosankan, namun setelahnya ada adegan yang menarik. Saya bahkan tidak berhenti menatap layar barang sedetikpun.

Menonton Marriage Story sebenarnya menonton kisah hidup yang bisa jadi terjadi pada kita. Bagi orang-orang yang belum atau akan menikah, film ini bisa jadi renungan yang menarik. Seberapa besar cinta kita kepada pasangan sehingga kita harus mengorbankan beberapa hal dalam diri kita? Bagi pasangan yang sudah menikah dan mempunyai anak, film ini juga bisa jadi renungan. Anak adalah anugrah terbesar, dan rintangan terbesar ketika kalian hendak bercerai. Jangan sampai hak asuh anak menjadi alasan untuk bertengkar. Bukankah semua anak berhak mendapatkan cinta kasih dari kedua orang tuanya?

Saya menyarankan kalian untuk menonton Marriage Story sendirian. Renungkanlah arti menjadi seorang pasangan hidup. Renungkan hal-hal baik dari pasangan anda usai menonton, dan setelahnya, temuilah pasangan anda dan peluk dia. Tanyakan padanya apa yang menjadi keinginannya, apa mimpinya, dan wujudkanlah hal tersebut berdua...

Jumat, 19 Juli 2019

Review Film: Murder Mystery. Receh, Tapi Menghibur...

Netflix nampaknya mulai masuk ke panggung besar. Setelah sukses menggaet Keanu Reeves di Always Be My Maybe, meskipun hanya jadi pemeran pembantu, dan dia berperan jadi dirinya sendiri, sekarang Netflix sukses menggaet dua aktor besar untuk berperan di film terbaru mereka, Murder Mystery. Dua aktor itu adalah Adam Sandler dan Jennifer Anniston.

Murder Mystery menceritakan tentang liburan bulan madu dua pasangan yang sudah menikah 15 tahun lamanya. Audrey Spitz (Jennifer Anniston) sudah menginginkan liburan ini sejak mereka menikah 15 tahun lalu, namun Nick Spitz (Adam Sandler) suaminya, nampaknya sudah lupa tentang janji itu. Akhirnya di hari jadi ulang tahun perkawinan mereka yang ke-15, Nick membawa Audrey pergi liburan ke Eropa. Di pesawat, secara kebetulan Audrey bertemu dengan Charles Cavendish (Luke Evans), seorang bangsawan Inggris. Charles mengajak mereka berdua untuk liburan bersamanya di Yacht berkeliling pelabuhan Eropa. Alih-alih ingin liburan dengan rencana mereka sendiri, Audrey menyetujui ajakan tersebut, dan Nick juga terpaksa mengikuti kemauan istrinya. Setelah di kapal Yacht, mereka baru mengetahui bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan berencana.

***

Murder Mystery sebenarnya menitikberatkan film mereka di komedi, dan bukan mysterynya, jadi tentu saja bagian mystery di film ini tidak digarap secara matang. Meskipun hal yang menjengkelkan adalah, bagian komedinya juga nampak tidak digarap secara matang pula. Mungkin ini akibat dari adanya Adam Sandler di film ini, yang komedinya bertipe "receh" dan "remeh" diduetkan dengan Jennifer Anniston yang komedinya bertipe "emosi".

Karena komedinya "receh" dan "remeh", kadang kita melihat ada bagian yang seharusnya lucu, tapi sebenarnya gak terlalu lucu. Karakter-karakter di film ini juga keliatan lebay, senada dengan "receh" yang ditawarkan Adam Sandler. Kita akan disuguhkan seorang kolonel yang gak punya mata dan tangan, ada juga orang rusia tinggi besar yang gak pernah ngomong, anehnya pula ada orang india yang gaya ngomongnya kaya orang afrika-amerika, ditambah pembalap F1 yang gak bisa ngomong bahasa inggris.

Sebagai film komedi, gua cuma bisa bilang bahwa Murder Mystery sukses menghibur, bukan sukses bikin ketawa. Saya sendiri cukup terhibur nontonnya, tapi yaudah gitu aja. Nggak lucu banget, nggak action banget, nggak thrilling. Just fun...

Sabtu, 06 Juli 2019

Review Series: Stranger Things 3. Masih Seru, Lebih Lucu.

The enemy is still in Hawkins...

Season 2 berakhir dengan cukup bahagia di pesta dansa, season 3 diawali dengan libur musim panas yang datang.

Grup anak-anak sudah masuk tahap remaja awal. Mike dan Eleven nampaknya lebih suka bermesraan di kamar daripada hang out bareng temen-temennya. Lucas pun nampaknya demikian dengan Max, meskipun gak semesra Mike dan Eleven. Hanya Will yang mungkin karena late bloomer, jadi masih suka main Dungeons & Dragon daripada punya pacar. Dustin digambarkan baru pulang dari perkemahan sains musim panas, dan diceritakan juga dia punya pacar, meskipun jauh di Utah.

Grup anak-anak pun sudah tidak lekat seperti dulu. Kita gak akan ngeliat Dustin bareng temen-temennya di season ini. Dia akan lebih banyak satu frame bareng Steve dan karakter baru rekan kerja Steve, Robin. Ohh dan juga adik kecilnya Lucas, Erica, yang jadi karakter cukup penting di Season 3 ini.

Latar tempat baru juga diperkenalkan. Di paragraf atas saya bilang Steve kerja di suatu tempat bareng Robin, tempat kerjanya di Mall Starcourt, tepatnya di tempat jualan eskrim Scoops Ahoy! Kita akan cukup sering lihat Starcourt, mungkin di setiap episode.

Nancy, sementara itu kerja di sebuah kantor percetakan koran bareng Jonathan, pacarnya. Meskipun kerja di satu tempat yang sama, nasib mereka beda. Jonathan kerja di bagian pencucian foto, yang nampaknya fine-fine saja, sementara Nancy jadi budak korporat yang kerjaannya beliin kopi dan hotdog, meskipun dia intern sebagai reporter muda.

Untuk lebih jauh lagi, saya akan bagi beberapa karakter ke dalam grup, dan grup itu kedalam plot.

Grup pertama akan saya beri nama grup Dustin, yang isinya Dustin, Steve, Robin dan Erica.

Grup kedua akan saya beri nama grup Mike, yang isinya Mike, Eleven, Lucas, Max dan Will.

Grup ketiga akan saya beri nama grup Nancy, yang isinya Nancy dan Jonathan.

Dan grup terakhir adalah grup Hopper, yang isinya Joyce dan Hopper.

Plot akan saya bagi dua, plot A yang menginvestigasi keterlibatan orang Rusia, dan plot B yang menginvestigasi kembalinya Demogorgon.

Kenapa bisa ada keterlibatan orang Rusia? Well, mereka kayanya antagonis inti disini. Diceritakan kalau orang-orang Rusia juga bisa bikin portal, dan selalu gagal. Mereka akhirnya mencoba bikin satu di Hawkins dengan Mall Starcourt sebagai kedok lab mereka. Cukup pintar sih...

Di awal cerita, Dustin secara tidak sengaja berhasil menangkap gelombang sinyal kode Rusia dari alat penangkap sinyal yang dia buat untuk berkomunikasi sama pacarnya, Suzie. Dustin akhirnya memberitahu Steve soal kode Rusia itu. Kemudian Robin terlibat, dan Erica yang sering nongkrong di Scoops Ahoy juga terlibat.

Masih berkutat di Plot A adalah grup Hopper. Joyce awalnya heran kenapa magnet di rumahnya dan di tokonya bisa tidak berfungsi. Setelah diteliti, Joyce meyakini bahwa terdapat sebuah mesin yang cukup besar yang dibuat di Hawkins secara ilegal. Hopper awalnya menganggap masalah ini sepele, tapi rasa ingintahu Joyce sangat kuat, akhirnya membuat Hopper mau tak mau ikut terlibat. Somehow, Hopper bertemu orang Rusia di lab yang terbakar di season 2, hingga akhirnya mereka terlibat di plot A.

Plot B diawali oleh Eleven yang sedang mengintip Billy Hargroves lewat kekuatannya. Masih inget Billy? cowok kasar yang keliatannya cuma jadi antagonis manusia di season 2 itu punya peranan penting di season 3 ini. Dia adalah new host dari mind-flayed. Benar, kalian akan lebih sering lihat Billy di season 3 ini sebagai salah satu antagonis.

Oke, jadi Eleven melihat Billy yang sedang ada di suatu tempat sedang bersama wanita. Eleven cukup penasaran dengan tingkah laku Billy saat itu, apalagi setelah diselidiki wanita yang bersama Billy terlihat mengaduh dan minta tolong lewat kekuatannya Eleven. Dugaan Eleven disertai bukti ketika ia dan Max melihat peluit berlumuran darah di kotak sampah di rumah Max. Eleven dan Max sempat mengalami kebuntuan ketika mereka datang ke rumah wanita itu dan menemui Billy disana, beserta wanita yang Eleven lihat, dan ia baik-baik saja.

Will yang sempat cukup lama menjadi host, juga mengalami gejala merinding di lehernya. Disitulah mereka menyimpulkan bahwa Demogorgon masih ada di Hawkins, dan Billy adalah host barunya.

Nancy dan Jonathan juga terlibat dalam plot B dengan cara lain. Nancy awalnya mendapat telepon bahwa terdapat tikus rabies di rumah salah seorang nenek. Jiwa reporter Nancy membawanya dan Jonathan pergi ke rumah nenek itu, Di rumah nenek tersebut rupanya terdapat sebuah tikus yang cukup ganas yang terkurung. Somehow tikus tersebut, yang rupanya adalah salah satu mind-flayed, merasuki nenek itu. Disinilah keterlibatan grup Nancy bermula, yang pada akhirnya semua grup itu menarik kesimpulan yang sama: Terror belum berakhir di Hawkins.

Sub-group ini terlihat lebih fun untuk ditonton. Dustin mungkin gak bareng sama teman-temannya, tapi melihatnya barengan sama Steve, Robin dan Erica, mereka punya banyak lelucon dan keseruan didalamnya. Robin, karakter baru kita juga menambah banyak kesenangan. Saya awalnya berpikir Robin tipe wanita yang sarkastik-bitchy, tapi rupanya dia cukup fun, energik dan pintar. Kalau ada Season 4nya, saya ingin lebih banyak lihat duet Steve-Robin hehehe...

Kita juga akan melihat progres kisah cinta (?) Joyce dan Hopper. Hopper kelihatannya tipe-tipe hopeless romantic yang egonya tinggi, sementara Joyce masih cukup galau semenjak kepergian Bob Newby. Sepanjang season kita akan banyak ngeliat mereka bertengkar sepele, tapi momen lucunya juga ada.

Btw cukup kasihan lihat Eleven di season ini. Serasanya kok kaya dia vs Demogorgon. Banyak banget dia babak belur di season ini. Banyak banget pula kerjaan dia. Nyari orang, lawan musuh, nyari orang, lawan musuh. Kita akan sering lihat hidungnya mimisan lebih dari season-season sebelumnya. Coba bandingin sama Will yang kerjaannya cuman megang-megang leher dan ngasih tau musuhnya udah nyampe. Kan kedengeran ya itu Demogorgon bernapas juga. Bantuin dorong mobil aja juga gak mau. Gaji buta doang Will tuh :(

Gua ngerasa Stranger Things Season 3 lebih lucu, tapi keintensannya masih tetap dijaga. Sebagai penutup series juga oke banget sih ini, tapi kalo ada Season 4nya ya gak nolak juga :P Toh ada after creditnya yang bikin cukup penasaran dan jadi dugaan cukup kuar kalau bakal ada Season 4 nya :)


















Senin, 09 Juli 2018

Review Film: Ant-Man and The Wasp. Kokoh Tanpa Infinity War

Selepas Infinity War, mungkin produser Marvel sudah lepas dari tanggung jawab membuat "make it most bad-ass, most thrilling, and our best" film. Karena Ant-Man and The Wasp adalah film yang bisa dibilang cukup enteng.

Ant-Man and The Wasp adalah film yang bisa dibilang berdiri sendiri. Latar waktunya adalah selepas Captain America: Civil War. Jadi gak heran kalau ada banyak kejadian di Civil War yang diceritakan di film ini.

Kenapa judulnya saya bilang "Kokoh Tanpa Infinity War?". Karena memang gak ada sama sekali insiden Infinity War yang disebut di film ini. Mungkin, ketika Avengers lain sedang sibuk-sibuknya melawan Thanos, Ant-Man dan The Wasp lebih sibuk nyari ibunya Hope barengan sama Hank Pym.
Insiden di Infinity War sendiri baru disebut pas after credit title.

Bercerita tentang Scott Lang yang menjadi tahanan rumah karena insiden membantu musuh negara, Captain America. Selama dua tahun pasca Civil War, Lang dipaksa mendekam di rumahnya 24 jam sehari.

Sementara itu Hope dan Hank yang mengetahui bahwa Scott Lang bisa selamat dari alam kuantum, berusaha untuk menemukan Janet, istri Hank dan ibunya Hope. Mereka berharap bahwa Janet bisa jadi masih hidup. Scott Lang saja bisa selamat, kenapa Janet tidak?

Lang sendiri mengetahui bahwa selama di alam kuantum, ia diberikan pesan dari Janet. Dengan bantuan Lang, Hope dan Hank berusaha mencari tahu lokasi Janet selama berada di alam kuantum. Usaha mereka sendiri tidak mudah. Selain sangat sulit mencari lokasi manusia yang berada di alam kuantum, mereka juga harus berhadapan dengan Ghost, seorang wanita yang punya sel tidak stabil. Hal ini membuatnya dapat menembus material padat.

Ant-Man mungkin berbeda dari Black Panther. Jika Black Panther adalah film yang serius, layaknya Winter Soldier, maka Ant-Man menyuguhkan guyonan yang cukup banyak, meski tidak sebanyak Thor:Ragnarok. Apakah film ini menurut saya bagus? Decent. Karena nanggung sekali filmnya. Saya gak tahu apakah karena Infinity War yang membuat film ini kelihatan "receh", tapi memang saya tidak melihat ada yang menonjol sama sekali di film ini. Even Dr. Strange masih terlihat lebih bagus menurut saya.

Satu kesamaan film ini dengan Black Panther adalah film ini mengangkat tema keluarga. Kita bisa lihat kedekatan Scott Lang dengan putrinya, Cassie disini. Kita bisa lihat perjuangan Hope dan Hank menemukan Janet disini. This film is all about finding Janet. Antagonis di film ini cuma layaknya batu ganjalan. Ghost dan Burch, bahkan FBI, hanyalah batu besar yang menghalangi Hope dan Hank dengan Janet. Mereka bukan Thanos yang menjadi antagonis utama.

Harus ditonton atau enggak? Menurut saya sih pilihan saja. Film ini gak ada hubungannya sama Infinity War (kecuali after credit title), jadi kalian yang gak nonton Infinity War, asalkan nonton Ant-Man yang pertama dan Civil War, bakalan tetap nyambung sama film ini.

Overall, film ini menghibur kok. Scott Lang dan Luis jadi sumber komedinya disini. Luis ini ibarat Ned aja kalau di Spiderman. Partner manusia yang kerjaannya melawak.


Minggu, 27 Mei 2018

Madrid Berhasil Menghukum Liverpool Tanpa Salah

Real Madrid berhasil mengukuhkan gelar juara Liga Champions-nya yang ke 13 setelah berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor cukup telak, 1-3. Dua gol dari pemain pengganti, Gareth Bale melengkapi gol pertama Benzema pada laga kali ini untuk Madrid. Sadio Mane mencatatkan namanya di papan skor dengan mencetak satu-satunya gol untuk Liverpool malam itu.

Di awal laga, Liverpool nampak sangat menguasai permainan. Mereka menekan Madrid dengan taktik Gegenpressing andalan Klopp. Madrid namun masih cukup tenang untuk mampu bertahan dari gempuran Salah cs.

Menit 29 adalah salah satu momen menegangkan. Salah keluar dari pertandingan lebih cepat karena cidera di bahu kirinya ulah pemain bertahan Madrid, Sergio Ramos. Entah mengapa ketiadaan Salah di lini depan membuat Madrid menjadi lebih menguasai pertandingan. Adam Lallana masuk menggantikan Salah.

Beberapa menit kemudian, cidera menghampiri pemain bertahan Madrid, Daniel Carvajal. Bek kanan asal Spanyol itu juga terpaksa ditarik keluar. Ketidakhadirannya diisi oleh bek Spanyol lainnya, Nacho Fernandez. 45 menit babak pertama skor masih 0-0.

Babak kedua laga berjalan semakin intens. Kedua tim saling serang. Gol akhirnya datang di menit ke-55 ketika Loris Karius melakukan blunder fatal. Ia hendak melakukan passing kepada Dejan Lovren (atau Alexander-Arnold), namun tidak melihat Karim Benzema yang berada persis di depannya. Striker asal Prancis melakukan blok terhadap passing Karius. Bola akhirnya meluncur ke dalam gawang. 1-0 untuk Madrid.

Gol untuk Liverpool datang 5 menit setelah gol Benzema. Berawal dari sepak sudut, Van Dijk berhasil mengalahkan Ramos dalam duel udara. Bola liar hasil tandukan Van Dijk diteruskan oleh Sadio Mane ke dalam gawang. Gol tersebut membumbung asa Liverpool untuk mengejar kemenangan.

Kedua tim yang sekarang dalam posisi seimbang, kembali melancarkan serangan antar keduanya. Menit 60, Isco ditarik keluar digantikan Gareth Bale.

Gol kedua Madrid berawal dari Marcelo yang melakukan overlap. Alexander-Arnold waktu itu berdiri agak ke tengah lapangan untuk merapatkan lini tengah. Hal ini dikarenakan banyak pemain Madrid kala itu persis di depan gawang. Casemiro mengumpankan bola ke Marcelo. Dengan cerdik Marcelo melakukan umpan lambung ke kotak pinalti. Gareth Bale yang waktu itu tanpa kawalan, berhasil melakukan tendangan salto yang cantik. Karius tidak kuasa menahan tendangan Bale. 2-1 untuk Madrid.

Keunggulan gol tidak membuat Madrid mengendurkan serangan. Malah, serangan mereka semakin intens. Berkali-kali Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo melakukan ancaman dengan solo run mereka. Namun kedisiplinan pemain bertahan Liverpool membuat gawang Karius aman, setidaknya untuk sementara.

Gol ketiga Madrid akhirnya datang juga. Bale yang berada di posisi kanan melakukan dribble ke tengah dan melepaskan tendangan jarak jauh. Bola sebenarnya berhasil ditepis oleh Karius, hanya saja tepisan bola tersebut mengarah kedalam gawang. 3-1 adalah akhir untuk Liverpool.

***

Yang saya lihat pada laga malam tadi adalah ketidak-hadiran Salah yang membuat Liverpool seakan tidak nyaman untuk melakukan serangan. Adam Lallana memang pemain yang cukup bagus, namun ia tidak bisa mengimbangi kecepatan Mane dan Firmino ketika melakukan serangan. Marcelo juga semakin nyaman untuk melakukan overlapping. Liverpool seakan tidak mengantisipasi permainan jika Salah tidak ada.

Saya sangat mengagumi permainan Sadio Mane, serta kuartet lini pertahanan Liverpool malam itu. Mane seolah tanpa henti berlari. Ia rajin membantu pertahanan. Ia juga sangat konsisten mengecam pertahanan dari sisi manapun. Nacho seolah tidak diberi kebebasan untuk melakukan overlap.

Dejan Lovren dan Trent Alexander-Arnold cukup baik dalam menjaga Ronaldo malam itu. Ronaldo tidak diberi sekalipun kebebasan untuk melakukan shooting. Andrew Robertson juga rajin membantu Mane/Lallana dalam overlap dan bertahan. Van Dijk sangat tangguh dalam duel udara.

Namun pemain Madrid juga patut diberikan kredit. Saya melihat Varane dan Ramos yang cukup tenang dalam melakukan passing meskipun digempur oleh lini serang Liverpool. Modric dan Kross bermain brilliant seperti biasanya. Ronaldo masih menjadi ancaman nyata bagi Liverpool meskipun ia seolah tidak terlihat malam itu. Marcelo adalah bek kiri yang sangat-sangat baik dalam melakukan serangan. Gareth Bale adalah aktor utama, yang meskipun bermain dari bangku cadangan, memberikan 2 gol penentu pada laga kali ini.

Pada akhirnya, Liverpool kalah karena mentalitasnya. Madrid memang tidak dominan pada laga malam itu, namun mereka menunjukkan siapa Mr. Final sesungguhnya. Siapa tim terbaik sesungguhnya. Madrid berhasil mengganti Isco yang malam itu bermain buruk, dengan Bale yang mencetak 2 gol. Liverpool sementara itu mengganti Salah dengan Lallana, yang sesungguhnya tidak buruk, hanya saja tidak sebaik Salah dalam menyerang. Kesiapan Madrid sudah tak perlu dipertanyakan pada laga malam ini. Mereka layak menang, dan mendapatkan gelarnya yang ke-13.


Jumat, 11 Mei 2018

Revolusi City Dimulai Dari Yaya Toure

Semenjak saya masih kecil, saya hanya tahu 1 klub saja di kota Manchester, yaitu Manchester United. Mungkin ada banyak klub yang berpusat di kota pelabuhan Inggris ini, baik itu bermain di Premiere League, maupun liga-liga di bawahnya. Mungkin, jumlah klubnya bisa puluhan, namun saya hanya mengenal Manchester United.

Manchester United seolah tidak punya tim sekota yang bisa menandingi superioritasnya. Liverpool bisa punya Everton yang meskipun klub papan tengah, terkenal dengan julukan giant killer. Arsenal punya Tottenham Hotspur serta Chelsea yang merajalela semenjak Abramovic menginjakkan kakinya di London Barat. Manchester United? mereka adalah raja di kotanya sendiri. Kalaupun ada yang bisa meluluhlantakkan ke-superioritasan Manchester United, mungkin klub-klub besar dari kota lain seperti yang saya sebutkan di atas.

Namun, semenjak Syeikh Mansyour menanamkan uangnya di sebuah klub bernama Manchester City, semua berubah. Dibangun secara perlahan namun mantap, City mulai mencoba mengganggu dominasi United. Dibelinya pemain-pemain berkualitas dari seluruh penjuru dunia, mengontrak manajer bagus, mencari talenta-talenta muda nan berbakat di seluruh dunia, membangun infrastruktur klub, semuanya Syeikh Mansyour lakukan untuk merobohkan dominasi United di kotanya sendiri.

Sejujurnya revolusi itu sudah terlihat semenjak tahun 2011, kali pertama City menjuarai Piala FA setelah sekian lama. Yaya Toure, pemuda asal Pantai Gading yang dibeli dari Barcelona kala itu, menjadi seorang revolusioner yang membawa City menang atas United di semifinal Piala FA 2010-2011. Lebih sensasional bagi gelandang bernomor punggung 42 tersebut, ia juga yang mencetak gol di Final Piala FA.

2011-2012 menandai kebangkitan Manchester City setelah klub tersebut menjuarai Liga Premier Inggris setelah sekian lamanya juga. Berkat Yaya Toure, serta nama-nama lain seperti Aguero, Tevez, Kompany, Silva dll, City sudah memberi peringatan keras pada MU. Musuh sekota kalian sudah muncul. United tidak lagi mendominasi kota Manchester.

United mungkin memenangkan lagi gelar Liga Premiernya yang ke-20 pada musim selanjutnya, namun setelah itu, piala EPL tidak pernah lagi mampir ke Old Trafford. 2013-2014, City memenangkannya, 2014-2015 mampir ke Chelsea, 2015-2016 adalah kejutan karena Leicester berhasil memenangkan gelar Liga Premier Inggris, 2016-2017, Chelsea berhasil memenangkannya kembali, dan musim ini, City juga kembali merengkuh gelar juara liganya yang ke 5.

City menjadi seperti sekarang, sebagian besar adalah andil para pemain. Dan Yaya Toure adalah salah satu orang yang membuat City layaknya City yang sekarang. Klub yang selalu menjadi favorit juara liga setiap musimnya, serta tim yang layak disegani di Eropa.

Yaya Toure sudah menghabiskan 7 tahun masa baktinya di City, dan mulai musim depan, adik dari Kolo Toure tersebut tidak akan lagi mengenakan kostum bernomor punggung 42 dengan logo Manchester City di dada kirinya. Alasan beliau memutuskan pindah, konon katanya karena dirinya sudah tidak lagi menjadi bagian dari tim inti di Manchester City. Pep Guardiola, manajer City yang sekarang nampaknya enggan memasukkan Yaya di skema rencananya. Yaya yang pernah bekerjasama dengan Pep di Barcelona, mungkin paham maksud manajer klubnya tersebut.

Farewell, Yaya Toure. Jasamu di City akan selalu dikenang. Engkau adalah revolusioner yang berhasil meruntuhkan digdaya United di Manchester. Salah satu gelandang pekerja keras terbaik yang pernah dimiliki City. City tidak akan (semoga demikian) melupakanmu :)

Selasa, 01 Mei 2018

Review Film: Avengers Infinity War.

2008, Iron Man yang pertama tayang, dan gak ada satu pun orang yang menyangka kalau akan ada Avengers. Sampai ke tahap ini pun mungkin tak terbayang. Thanks to Russo Brother, film ini exist.

Menonton film ini adalah menyaksikan 10 tahun tumbuh kembangnya Marvel Cinematic Universe. Serius deh. 10 tahun Marvel membuat MCU adalah memberikan karakteristik untuk masing-masing superhero di film ini. 2,5 jam film adalah full aksi non stop dan gak perlu lagi pakai perkenalan karakter. Masa bodoh dengan introduction Avengers. Sebagai gantinya dari menit sangat awal kita sudah disuguhkan sang villain sejati di film ini, Thanos. What a man.

Makanya di film ini kita akan selalu ketemu sama pria botak ungu yang badannya hampir segede Hulk tersebut. Thanos diberi banyak sekali porsi waktu. Kita akan dikenalkan secara mendalam siapakah dia, apa tujuannya, dan bagaimana wataknya. Saya suka sekali bagaimana CGI berperan di film ini. Thanos terlihat sangat manusia lewat actingnya Josh Brolin. Begitupun latar tempat, khususnya di luar planet bumi yang artistik sekali. 

I like how Russo brothers make this film so dark, but yet still have comedy in it. Jujur saya lebih suka film Marvel dengan gaya seperti ini. Perasaan kita dibuat campur aduk. Senang, tawa, terkejut, sedih, semua dikemas dengan rapi dalam film ini. 

And for closing:
1. saya suka rambut Natasha yang baru
2. saya suka Captain America muncul lagi setelah sekian lama dengan jenggot barunya
3. This is Thanos movie. Not Captain America, not Iron Man, not Thor.
4. Wakanda Forever!
5. This is minor spoiler but Star Lord giving middle finger is my favorite moment in this film
6. Thor is the strongest Avenger
7. Tom Holland rocks it with his oscar-performance acting.