Jumat, 19 Juli 2019

Review Film: Murder Mystery. Receh, Tapi Menghibur...

Netflix nampaknya mulai masuk ke panggung besar. Setelah sukses menggaet Keanu Reeves di Always Be My Maybe, meskipun hanya jadi pemeran pembantu, dan dia berperan jadi dirinya sendiri, sekarang Netflix sukses menggaet dua aktor besar untuk berperan di film terbaru mereka, Murder Mystery. Dua aktor itu adalah Adam Sandler dan Jennifer Anniston.

Murder Mystery menceritakan tentang liburan bulan madu dua pasangan yang sudah menikah 15 tahun lamanya. Audrey Spitz (Jennifer Anniston) sudah menginginkan liburan ini sejak mereka menikah 15 tahun lalu, namun Nick Spitz (Adam Sandler) suaminya, nampaknya sudah lupa tentang janji itu. Akhirnya di hari jadi ulang tahun perkawinan mereka yang ke-15, Nick membawa Audrey pergi liburan ke Eropa. Di pesawat, secara kebetulan Audrey bertemu dengan Charles Cavendish (Luke Evans), seorang bangsawan Inggris. Charles mengajak mereka berdua untuk liburan bersamanya di Yacht berkeliling pelabuhan Eropa. Alih-alih ingin liburan dengan rencana mereka sendiri, Audrey menyetujui ajakan tersebut, dan Nick juga terpaksa mengikuti kemauan istrinya. Setelah di kapal Yacht, mereka baru mengetahui bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan berencana.

***

Murder Mystery sebenarnya menitikberatkan film mereka di komedi, dan bukan mysterynya, jadi tentu saja bagian mystery di film ini tidak digarap secara matang. Meskipun hal yang menjengkelkan adalah, bagian komedinya juga nampak tidak digarap secara matang pula. Mungkin ini akibat dari adanya Adam Sandler di film ini, yang komedinya bertipe "receh" dan "remeh" diduetkan dengan Jennifer Anniston yang komedinya bertipe "emosi".

Karena komedinya "receh" dan "remeh", kadang kita melihat ada bagian yang seharusnya lucu, tapi sebenarnya gak terlalu lucu. Karakter-karakter di film ini juga keliatan lebay, senada dengan "receh" yang ditawarkan Adam Sandler. Kita akan disuguhkan seorang kolonel yang gak punya mata dan tangan, ada juga orang rusia tinggi besar yang gak pernah ngomong, anehnya pula ada orang india yang gaya ngomongnya kaya orang afrika-amerika, ditambah pembalap F1 yang gak bisa ngomong bahasa inggris.

Sebagai film komedi, gua cuma bisa bilang bahwa Murder Mystery sukses menghibur, bukan sukses bikin ketawa. Saya sendiri cukup terhibur nontonnya, tapi yaudah gitu aja. Nggak lucu banget, nggak action banget, nggak thrilling. Just fun...

Sabtu, 06 Juli 2019

Review Series: Stranger Things 3. Masih Seru, Lebih Lucu.

The enemy is still in Hawkins...

Season 2 berakhir dengan cukup bahagia di pesta dansa, season 3 diawali dengan libur musim panas yang datang.

Grup anak-anak sudah masuk tahap remaja awal. Mike dan Eleven nampaknya lebih suka bermesraan di kamar daripada hang out bareng temen-temennya. Lucas pun nampaknya demikian dengan Max, meskipun gak semesra Mike dan Eleven. Hanya Will yang mungkin karena late bloomer, jadi masih suka main Dungeons & Dragon daripada punya pacar. Dustin digambarkan baru pulang dari perkemahan sains musim panas, dan diceritakan juga dia punya pacar, meskipun jauh di Utah.

Grup anak-anak pun sudah tidak lekat seperti dulu. Kita gak akan ngeliat Dustin bareng temen-temennya di season ini. Dia akan lebih banyak satu frame bareng Steve dan karakter baru rekan kerja Steve, Robin. Ohh dan juga adik kecilnya Lucas, Erica, yang jadi karakter cukup penting di Season 3 ini.

Latar tempat baru juga diperkenalkan. Di paragraf atas saya bilang Steve kerja di suatu tempat bareng Robin, tempat kerjanya di Mall Starcourt, tepatnya di tempat jualan eskrim Scoops Ahoy! Kita akan cukup sering lihat Starcourt, mungkin di setiap episode.

Nancy, sementara itu kerja di sebuah kantor percetakan koran bareng Jonathan, pacarnya. Meskipun kerja di satu tempat yang sama, nasib mereka beda. Jonathan kerja di bagian pencucian foto, yang nampaknya fine-fine saja, sementara Nancy jadi budak korporat yang kerjaannya beliin kopi dan hotdog, meskipun dia intern sebagai reporter muda.

Untuk lebih jauh lagi, saya akan bagi beberapa karakter ke dalam grup, dan grup itu kedalam plot.

Grup pertama akan saya beri nama grup Dustin, yang isinya Dustin, Steve, Robin dan Erica.

Grup kedua akan saya beri nama grup Mike, yang isinya Mike, Eleven, Lucas, Max dan Will.

Grup ketiga akan saya beri nama grup Nancy, yang isinya Nancy dan Jonathan.

Dan grup terakhir adalah grup Hopper, yang isinya Joyce dan Hopper.

Plot akan saya bagi dua, plot A yang menginvestigasi keterlibatan orang Rusia, dan plot B yang menginvestigasi kembalinya Demogorgon.

Kenapa bisa ada keterlibatan orang Rusia? Well, mereka kayanya antagonis inti disini. Diceritakan kalau orang-orang Rusia juga bisa bikin portal, dan selalu gagal. Mereka akhirnya mencoba bikin satu di Hawkins dengan Mall Starcourt sebagai kedok lab mereka. Cukup pintar sih...

Di awal cerita, Dustin secara tidak sengaja berhasil menangkap gelombang sinyal kode Rusia dari alat penangkap sinyal yang dia buat untuk berkomunikasi sama pacarnya, Suzie. Dustin akhirnya memberitahu Steve soal kode Rusia itu. Kemudian Robin terlibat, dan Erica yang sering nongkrong di Scoops Ahoy juga terlibat.

Masih berkutat di Plot A adalah grup Hopper. Joyce awalnya heran kenapa magnet di rumahnya dan di tokonya bisa tidak berfungsi. Setelah diteliti, Joyce meyakini bahwa terdapat sebuah mesin yang cukup besar yang dibuat di Hawkins secara ilegal. Hopper awalnya menganggap masalah ini sepele, tapi rasa ingintahu Joyce sangat kuat, akhirnya membuat Hopper mau tak mau ikut terlibat. Somehow, Hopper bertemu orang Rusia di lab yang terbakar di season 2, hingga akhirnya mereka terlibat di plot A.

Plot B diawali oleh Eleven yang sedang mengintip Billy Hargroves lewat kekuatannya. Masih inget Billy? cowok kasar yang keliatannya cuma jadi antagonis manusia di season 2 itu punya peranan penting di season 3 ini. Dia adalah new host dari mind-flayed. Benar, kalian akan lebih sering lihat Billy di season 3 ini sebagai salah satu antagonis.

Oke, jadi Eleven melihat Billy yang sedang ada di suatu tempat sedang bersama wanita. Eleven cukup penasaran dengan tingkah laku Billy saat itu, apalagi setelah diselidiki wanita yang bersama Billy terlihat mengaduh dan minta tolong lewat kekuatannya Eleven. Dugaan Eleven disertai bukti ketika ia dan Max melihat peluit berlumuran darah di kotak sampah di rumah Max. Eleven dan Max sempat mengalami kebuntuan ketika mereka datang ke rumah wanita itu dan menemui Billy disana, beserta wanita yang Eleven lihat, dan ia baik-baik saja.

Will yang sempat cukup lama menjadi host, juga mengalami gejala merinding di lehernya. Disitulah mereka menyimpulkan bahwa Demogorgon masih ada di Hawkins, dan Billy adalah host barunya.

Nancy dan Jonathan juga terlibat dalam plot B dengan cara lain. Nancy awalnya mendapat telepon bahwa terdapat tikus rabies di rumah salah seorang nenek. Jiwa reporter Nancy membawanya dan Jonathan pergi ke rumah nenek itu, Di rumah nenek tersebut rupanya terdapat sebuah tikus yang cukup ganas yang terkurung. Somehow tikus tersebut, yang rupanya adalah salah satu mind-flayed, merasuki nenek itu. Disinilah keterlibatan grup Nancy bermula, yang pada akhirnya semua grup itu menarik kesimpulan yang sama: Terror belum berakhir di Hawkins.

Sub-group ini terlihat lebih fun untuk ditonton. Dustin mungkin gak bareng sama teman-temannya, tapi melihatnya barengan sama Steve, Robin dan Erica, mereka punya banyak lelucon dan keseruan didalamnya. Robin, karakter baru kita juga menambah banyak kesenangan. Saya awalnya berpikir Robin tipe wanita yang sarkastik-bitchy, tapi rupanya dia cukup fun, energik dan pintar. Kalau ada Season 4nya, saya ingin lebih banyak lihat duet Steve-Robin hehehe...

Kita juga akan melihat progres kisah cinta (?) Joyce dan Hopper. Hopper kelihatannya tipe-tipe hopeless romantic yang egonya tinggi, sementara Joyce masih cukup galau semenjak kepergian Bob Newby. Sepanjang season kita akan banyak ngeliat mereka bertengkar sepele, tapi momen lucunya juga ada.

Btw cukup kasihan lihat Eleven di season ini. Serasanya kok kaya dia vs Demogorgon. Banyak banget dia babak belur di season ini. Banyak banget pula kerjaan dia. Nyari orang, lawan musuh, nyari orang, lawan musuh. Kita akan sering lihat hidungnya mimisan lebih dari season-season sebelumnya. Coba bandingin sama Will yang kerjaannya cuman megang-megang leher dan ngasih tau musuhnya udah nyampe. Kan kedengeran ya itu Demogorgon bernapas juga. Bantuin dorong mobil aja juga gak mau. Gaji buta doang Will tuh :(

Gua ngerasa Stranger Things Season 3 lebih lucu, tapi keintensannya masih tetap dijaga. Sebagai penutup series juga oke banget sih ini, tapi kalo ada Season 4nya ya gak nolak juga :P Toh ada after creditnya yang bikin cukup penasaran dan jadi dugaan cukup kuar kalau bakal ada Season 4 nya :)