Kamis, 21 Mei 2015

Xavi Hernandez, Sang Maestro Yang Akan Pergi

Tepat 25 Januari 1980 di suatu tempat di Terassa, Spanyol, lahir seorang bayi yang nantinya akan menjadi legenda persepakbolaan Spanyol. Tidak ada yang tahu kalau bayi kecil mungil itu nantinya akan menjadi seorang gelandang terbaik di dataran Eropa bahkan dunia. Bayi kecil tersebut bernama Xavi Hernandez.
Xavi kecil bermain di Barcelona sudah dari tahun 1991. Sudah dari umur 11 tahun pemain Timnas Spanyol tersebut bermain di klub yang sudah meraih 4 trofi Liga Champion. Namun 24 tahun adalah angka terakhir Xavi di klub Catalan tersebut. Ya, Musim depan Xavi akan meninggalkan Barcelona dan hijrah ke klub Al Sadd di Timur Tengah sana. Xavi menembus Barcelona B pada tahun 1997 dan promosi ke skuat utama tahun 98. 1 tahun sudah lebih dari cukup menjadi bukti kalau Xavi layak menjadi pelapis skuat utama Barca. Xavi harus bertarung merebut posisi inti termasuk melawan mantan pelatih Barca yang saat ini menjadi manajer Bayern Munich, Pep Guardiola.

Sebagai pemain, Xavi telah memenangkan semuanya. Gelar Liga, Piala Spanyol, Liga Champions, UEFA Super Cup, Club World Cup, European Cup, World Cup, termasuk beberapa penghargaan individu lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu menjadi bukti betapa sahihnya kemampuan sang gelandang 35 tahun. Namun usia memang tak bisa berbohong, Xavi mungkin sudah tidak kuat lagi bermain 2 pertandingan beruntun atau bahkan 90 menit pertandingan. Alhasil Luis Enrique sang pelatih lebih memilih Ivan Rakitic sebagai pemain tengah menemani Andres Iniesta. Xavi hanya dimainkan menjadi pengganti dalam kebanyakan pertandingan Barca musim ini. Tapi bukan berarti Barcelona menjadi meredup permainannya. Dengan Iniesta sebagai Il Capitano pun sudah cukup menghantarkan Barca menjadi jawara musim ini. Belum ditambah dengan masuknya Barca di final Copa del Rey dan Liga Champion menunjukkan bahwa tanpa Xavi pun, Barca tetaplah tim yang ditakuti seantero Eropa dan Dunia.

Xavi memang legenda. Keloyalannya di Barcelona tidak perlu dipertanyakan lagi. Usia memang menjadi halangan, namun skillnya tetap salah satu yang terbaik di Spanyol. Gelandang berpostur tubuh pendek ini memang sudah waktunya harus meninggalkan Barca dan Spanyol. Bukan karena tidak layak, mungkin karena ingin menikmati masa hampir pensiunnya dengan tenang tanpa tanggung jawab memikul beban klub, fans dan pemain lainnya. Pada akhirnya kita penikmat sepakbola tak akan lagi melihat seorang pemain bertubuh mungil yang berlari larian di lapangan untuk memotivasi rekannya, melakukan takle dan passing passing akuratnya di La Liga musim depan. Yang pasti Xavi sudah melakukan yang terbaik untuk Barca, untuk fans dan untuk penikmat sepakbola lainnya. So, Goodbye Maestro.

Rabu, 20 Mei 2015

My Favorite Villains in Film

Menonton film aksi pasti tidak luput dari peran tokoh protagonis dan antagonis. Hampir kesemua film aksi menyematkan salah satu pesan moral sederhana yang simple sekali "kebaikan pasti menang, kejahatan pasti kalah". Yak, karena villains selalu kalah, namun bukan berarti banyak yang tak suka dengan kehadiran tokoh antagonis, bahkan ada film yang tokoh antagonisnya lebih dipuja puji daripada protagonisnya. Entah karena aktingnya, kekuatannya, cara pikir dan sudut pandangnya, atau bahkan sekedar cara berpakaiannya saja (biasanya film superhero ini) dan berikut adalah villains favorite saya. (rating villains dari 1-10)
1. Ultron (The Avengers : Age Of Ultron)

Ultron adalah salah satu villains favorite saya karena dia keren, kekuatannya menembus dunia maya, mengendalikan alat teknologi serta cara pikir yang sepikiran sama si Tony Stark membuat saya mengagumi sosok super villains yang satu ini. Namun akhirnya super villains ini takluk oleh The Vision.

Kekuatan : 8
Kecerdasan : 9
Fisik : 9


2. Voldemort (Harry Potter 1-7)

Si pesek ini emang salah satu villains yang paling susah dibunuh, kemampuannya yang bisa hidup lagi karena horcrux emang mengesalkan buat para penyihir di dunia Harry Potter. Namun yang mengesalkan dari You-Know-Who adalah para anak buahnya yang ia panggil Death Eater (Pelahap maut. Salah satu jurus andalan Voldemort adalah Avada Kedavra, salah satu jurus terlarang di dunia sihir Harry Potter.

Kekuatan : 9
Kecerdasan : 9
Fisik : 5

3. Joker (The Dark Knight)

Badut ini emang salah satu musuh abadi si Batman di film The Dark Knight. Joker adalah seorang psikopat yang bermain main dengan nyawa hanya untuk kepuasan pribadinya. Senjata andalan Joker sebenarnya adalah otaknya yang cerdas yang sering kali membuat Batman dan warga Gotham terperdaya olehnya

Kekuatan : 7
Kecerdasan : 9
Fisik : 7

4. Loki (Thor)

Loki adalah adik dari Thor, sang Dewa Petir sekaligus anak dari Odin. Niat jahat Loki sebenarnya adalah ingin menjadi King Of Asgardian ketika yang ditunjuk menjadi raja malah kakaknya, Thor. Tak seperti kakaknya yang terlalu mengandalkan kekuatan fisik dan senjatanya, Loki sepertinya sesosok orang (atau Dewa) yang lebih mengandalkan otaknya. Jalur pikirannya sulit dibaca dan karena dia Dewa, jadi kekuatan fisiknya setara dengan Thor.

Kekuatan : 7
Kecerdasan : 9
Fisik : 10

5. Venom (Spiderman 3)

Kalau Joker adalah musuh abadi Batman, maka musuh abadi Spiderman adalah Venom. Venom adalah jaringan parasit dari luar angkasa yang jatuh ke bumi. Namun karena ia hinggap di tubuh Spiderman, alhasil Venom jadi punya kekuatan yang setara dengan Spiderman. Bedanya adalah Venom bertubuh lebih besar dari Spidey serta berwarna hitam. Jurus andalan Venom sama seperti Spidey yaitu jaring, kekuatan fisik dan spider sense.

Kekuatan : 8
Kecerdasan 7
Fisik : 9

David De Gea Pindah. Siapa Penggantinya?

Sudah bukan rahasia lagi kalau Real Madrid memiliki ketertarikan yang amat sangat kepada kiper Manchester United saat ini, David De Gea. Dan seperti Madrid yang biasanya, mereka rela menggelontorkan dana ratusan milyar rupiah untuk salah satu kiper terbaik dunia saat ini. Kita tahu kalau Madrid sudah getol akan pemain, mereka akan berbuat apa saja untuk mendapatkan pemain tersebut, termasuk membuang uang jutaan poundsterling dan bonus bonus yang tak bisa terhitung lagi banyaknya. Andai kata Madrid sudah berhasil mendapatkan De Gea, lantas siapakah calon suksesor mantan penjaga gawang Atletico tersebut?
1. Hugo Lloris

MU sudah lama mengincar pemain yang satu ini, Kapten timnas Prancis ini mungkin agak kesal lantaran usahanya dibawah mistar gawang tidak didukung oleh kemampuan bek bek Tottenham Hotspur dalam menjaga keperawanan gawangnya. Pindah ke tim Setan Merah mungkin bisa menjadi solusi yang pantas untuk Hugo Lloris mengingat MU mempunyai pemain bertahan yang sedikit lebih baik daripada Tottenham Hotspur.

2. Tim Krul

Kiper Newcastle United ini bisa menjadi solusi kedua kalau Lloris gagal dibeli. Krul adalah penyelamat di babak adu penalti ketika Piala Dunia tahun lalu. Kemampuan membaca arah bolanya ini mungkin yang membuat Van Gaal kesemsem ingin membawanya ke Theatre Of Dreams. Tim Krul yang mempunyai harga sedikit lebih murah dari Hugo Lloris juga menjadi pertimbangan manajemen untuk membawanya ke Old Trafford.

3, Petr Cech

Opsi ini sulit karena Cech kini bermain di kesebelasan yang menjadi musuh Manchester United, yaitu Chelsea. Petr Cech kini sulit mendapatkan tempat di skuat utama karena kehadiran anak baru bernama Thibaut Courtois. Arsenal dan PSG yang juga mengincar palang pintu Republik Ceko tersebut membuat peluang MU kian sulit mendapatkannya. Namun mengingat Chelsea yang pernah menjual pemain terbaiknya 2 tahun berturut turut (baca : Juan Mata) ke MU juga bisa menjadi pengingat kalau asa Setan Merah mendapatkan pemain ini masih ada

4. Iker Cassilas

Kalau De Gea jadi pindah ke Real Madrid, maka Los Blancos harus rela menjual / mendepak salah satu palang pintu mereka. Keylor Navas yang baru semusim membela Real Madrid tidak mungkin dijual karena kontrak. Ini berarti Legenda mereka yang dijuluki Santo Iker harus rela terdepak demi mengisi slot untuk David De Gea. Sebenarnya sederhana sekali, Kalau De Gea menggantikan posisi Cassilas di Real Madrid, maka Cassilas juga bisa melakukan hal yang sama di MU kan? Mengapa tidak? Kemampuannya masih cukup mumpuni untuk bertarung mendapatkan posisi palang pintu utama Setan Merah dan refleknya juga masih belum hilang sebagai kiper. MU akan sangat beruntung kalau berhasil mendapatkan Kapten La Furia Roja ini.

5. Victor Valdes

Atau sebenarnya MU sudah mendapatkan pengganti De Gea saat ini.Yap, Victor Valdes sudah 1 musim di MU dan sudah bermain pertandingan perdananya ketika seri 1-1 melawan Arsenal kemarin. Pemain berusia 31 tahun ini memang hampir 1 musim absen cidera lutut ketika ia bermain bersama klub terakhir yang dibelanya, FC Barcelona. Valdes sudah sangat berpengalaman di kancah internasional. Ia sudah pernah mengecap trofi La Liga, Copa Del Rey, Liga Champions, UEFA Super Cup, Trofi Piala Dunia Antar Klub, Trofi Piala Eropa sampai Piala Dunia juga sudah pernah ia raih. Raihan penghargaan individual seperti trofi Zamora bahkan pernah ia raih 6 kali beruntun. Tak heran kalau sekarang Valdes adalah pemain dengan trofi terbanyak di BPL. Dengan banyak sekali penghargaan seperti itu, maka mengecap Valdes sebagai pilihan kedua di sebuah tim adalah pilihan yang kurang masuk akal. Seharusnya MU mencari pengganti Valdes, karena melirik kemampuannya selama di Barca, MU layak bersyukur mendapatkan pemain macam Valdes dengan harga gratis.

Usaha Van Gaal Meng"Oranye"kan Setan Merah

Musim ini memang belum selesai bagi tim Barclays Premiere League, namun MU sudah meresmikan buruan barunya bernama Memphis Depay yang konon katanya dibeli seharga 25 juta dari juara Liga Belanda musim ini PSV Eindhoven. Depay akan menjadi pemain belanda ketiga di MU musim ini setelah Robin Van Persie dan Daley Blind yang sudah duluan menjadi anak asuh Van Gaal di Old Trafford. Namun apakah hanya itu saja pembelian Manchester United di bursa transfer musim panas ini?
Seperti yang kita ketahui kalau David De Gea kemungkinan akan bermain untuk Real Madrid musim depan. Ini artinya MU harus mencari pengganti yang sepadan untuk pria Spanyol berumur 25 tahun tersebut. Berbagai nama sudah ramai dihubungkan ke klub yang berlogo setan merah tersebut, sebut saja nama nama macam Hugo Lloris, Petr Cech, sampai Iker Cassilas yang diberitakan akan hengkang jika Real Madrid berhasil mendapatkan De Gea. Namun dari semua nama tersebut, MU (atau Van Gaal) mengincar kiper Ajax berusia 26 tahun yang tampil apik ketika gelaran Piala Dunia terakhir. Yap, MU mengincar satu lagi pria Belanda bernama Jasper Cillesen.

Dengan adanya Memphis Depay, MU kini mempunyai 4 pria Belanda (3 pemain dan 1 pelatih) dalam tubuh Manchester United  musim depan. Apakah Van Gaal ada rencana untuk meng"oranye"kan Setan Merah? Van Gaal sebagai pelatih tentu lebih percaya pada pemain hasil binaan negaranya sendiri daripada negara lain. Ditambah formasi kesukaan Van Gaal akan lebih terencana apabila ada pemain yang paham akan kemauannya tersebut yang tidak lain tidak bukan adalah pemain asal negaranya sendiri, pemain Belanda. 3 pemain tersebut juga bisa jadi akan bertambah lagi kalau Cillesen jadi berlabuh di Manchester United, dan jangan lupa kalau ketertarikan Van Gaal terhadap Ron Vlaar belum berkurang. Jadi selama masih ada Van Gaal di MU. Kita akan melihat tim setan merah dengan cita rasa Belanda untuk beberapa tahun ini.

Jumat, 08 Mei 2015

Bayern yang butuh Robben-Ribery

Pada laga Semifinal Liga Champions kemarin, sang Juara Bundesliga harus bertekuk lutut di hadapan raksasa Spanyol, Barcelona. 2 gol Leo Messi dan 1 gol Neymar cukup untuk membuat Phillip Lahm dkk tersungkur di Camp Nou saat itu. Bayern memang bermain sangat baik, namun absennya Ribery dan Robben nyatanya cukup mengganggu Skuad besutan Pep Guardiola ini. 2 winger andalannya itu absen lantaran cidera yang menghampiri keduanya, terlebih Arjen Robben yang absen sampai akhir musim membuatnya tak akan bisa tampil di leg kedua di Allianz Arena nanti. Ribery nampaknya akan bisa bermain di Leg kedua nanti, namun apakah Bayern bisa menang hanya dengan Ribery?


Kita tahu bahwa duet Robben-Ribery adalah salah satu duet Inverted Winger terbaik di dunia. (di atas Ronaldo dan Bale kalau menurut saya). Robben dan Ribery masing masing punya senjata andalan yang sama : dribble. Robben adalah salah satu winger paling berbahaya di dunia (dan salah satu yang terbaik di dunia) cut inside nya dipadukan dengan tendangan kaki kiri yang mematikan adalah salah satu senjata rahasia Bayern sekaligus momok bagi kiper dan bek lawan. Apalagi Robben adalah salah satu Top Skorer Bayern musim ini di Bundesliga. Dari situ sudah jelas kalau mantan winger Real Madrid ini adalah pemain yang sangat vital bagi kesebelasan yang menang Bundesliga 3 kali berturut turut itu. Ribery sudah tidak diragukan lagi kapasitasnya. Memenangkan gelar pemain terbaik Eropa dan juara 3 Ballon D Or tahun 2013 sudah cukup menggambarkan bagaimana mengerikannya pemain Prancis ini. Berbeda dengan Robben, bukan tipikal Ribery untuk melakukan shooting ke gawang ketika sudah melakukan cut inside. Ribery lebih suka melakukan percobaan assist dan mengobrak -abrik sisi kiri pertahanan lawan. 3 gelar yang Bayern bukukan tahun 2013 cukup menjadi bukti bagaimana vitalnya Bayern Munich yang dengan Riberynya mampu mengandaskan seluruh lawan lawan yang mereka hadapi.


Lantas benarkah kalau absennya duet Winger terbaik dan Eropa ini menjadi alasan bagaimana Munchen takluk oleh Barcelona? Bisa jadi seperti itu. Robben dan Ribery adalah tipe pemain lini kedua yang siap membantu Lewandowsi di lini depan. Ketika berhadapan dengan Barca, Munchen seperti mengandalkan serangan hanya kepada Muller dan Lewandowski tanpa kehadiran pemain lini kedua. Schweinsteiger hanya sesekali membantu penyerangan, Alonso dan Phillip Lahm bahkan tak pernah membantu Muller dan Lewandowski sementara Thiago Alcantara yang beroperasi di sisi kiri selalu telat datang. Hal inilah yang mengganggu proses aliran bola Bayern Munich. Kita tahu kalau Robben dan Ribery bermain, keduanya selalu hadir ketika proses menyerang. Ketika serangan balik, keduanya atau salah satu dari mereka pasti selalu ada ketika Bayern membutuhkannya. Entah itu Robben atau Ribery. Alcantara yang bermain kala itu tidak punya speed atau kemampuan duel 1 vs 1 seperti Ribery. Muller pun demikian ketika bermain di posisi Robben. Muller memang mempunyai stamina dan speed, namun posisi terbaiknya sepertinya bukan di sayap kanan. Muller lebih baik ketika berada di posisi belakang penyerang atau second striker menopang Lewandowski.


Memang ada beberapa alasan lain di balik kekalahan Bayern di Camp Nou, seperti kesalahan taktik yang dilakukan Pep, Messi yang sedang on fire atau bek Bayern yang bermain di bawah standar, apapun itu tetap saja sang pelatih asal Spanyol harus memeras otak bagaimana Bayern bisa mengejar defisit 3 gol di kandang mereka sendiri. Pep harus memikirkan siapa yang mengambil alih posisi sayap kanan di pertandingan Liga Champions pekan depan. Apakah tetap percaya kepada Muller atau memberikan posisinya kepada pemain lain macam Sebastian Rode? kalau kata fans Arsenal "Wenger knows best" sepertinya fans Bayern harus memberikan kata kata yang sama kepada Josep Guardiola di pertandingan leg kedua nanti. "Pep knows best".


Sabtu, 02 Mei 2015

Quote Ki Hajar Dewantara dan Hubungannya Dengan Sikap Pemain Bola.

Hari ini tanggal 2 Mei dikenal sebagai hari pendidikan nasional atau hari lahirnya sosok pemerhati pendidikan bangsa Indonesia, Bapak Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah salah satu sosok pahlawan. Bukan dalam artian pahlawan perang, melainkan pahlawan yang dengan ilmunya bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan bangsa hingga saat ini. Bapak mentri pendidikan ini mempunyai salah satu Quote atau kata bijak yang sangat menarik dalam bahasa jawa yang berbunyi seperti ini :
Ing Ngarso Sung Tulodo
Ing Madyo Mangun Karso
Tut Wuri Handayani

Kata kata Bapak pendiri Taman Siswa ini sebenarnya bisa diaplikasikan ke kehidupan pemain sepakbola di dunia nyata. Pemain sepakbola yang mempunyai 3 ciri yang diatas tersebut harusnya adalah pemain yang mempunyai mental kuat, pantang menyerah dan vokal dalam memberikan semangat ke rekan rekannya.


1. Ing Ngarso Sung Tulodo.

Yang berarti dari depan memberikan teladan. Seorang pemain bola harus bisa menjadi teladan yang baik, bersikap sopan didalam maupun di luar lapangan, tidak gampang emosi dan mempunyai sikap fair play. Pemain bola yang mempunyai sikap seperti ini juga harus hebat dalam permainan dan posisi sehingga bisa menjadi contoh dan acuan pemain lainnya. Saya mengambil contoh pemain seperti Didier Drogba. pemain berkebangsaan Pantai Gading ini sangat bisa diambil teladannya. Drogba adalah pemain yang keras di lapangan, namun ternyata lembut di luar lapangan. Drogba berjasa untuk negaranya. Ia tidak segan menyisihkan sebagian gajinya untuk orang tak mampu di negaranya, Drogba bahkan dengan inisiatif membangun rumah sakit di negaranya khusus orang tak mampu. Ini adalah sikap yang harus diteladani oleh pemain lain, walaupun dengan status bintangnya sebagai striker top Eropa, Drogba tidak pernah lupa akan teman teman di negaranya sendiri yang mengalami kesusahan.

2. Ing Madyo Mangun Karso

Yang berarti dari tengah memberikan semangat. Seorang pemain bola harus memberikan semangat kepada teman temannya, apalagi ketika timnya sedang ketinggalan atau kalah. Pemain bola yang baik adalah yang ketika kalah masih bisa berkepala tegak dibanding rekan rekannya dan belajar dari kekalahan tersebut. Sebelum peluit wasit berbunyi, seorang pemain harusnya memiliki semangat juang untuk menghindari kekalahan, ataupun mempertahankan kemenangan. Pemain yang baik harus selalu memberikan semangat dan berjuang bersama teman temannya ketika menang atau kalah. Contoh pemain seperti ini adalah Steven Gerrard. Masih ingat ketika tragedi Istanbul 2005?. Ketika babak pertama Liverpool tertinggal 0-3 oleh AC Milan, Gerrard selaku kapten tim tidak pantang menyerah dan membuktikan kalau harapan masih ada. Dan benar saja, Pada akhir laga skor menjadi sama 3-3 dan ketika dilanjutkan ke babak pinalty, Liverpool menang dan merengkuh gelar ke 5 mereka di tanah Turki tersebut. Hal ini membuktikan kalau Gerrard tidak pernah patah semangat dan berkepala tegak disaat teman temannya pesimis di ruang ganti. Begitulah seharusnya seorang pemain, memberikan semangat di tengah, seperti posisi Gerrard, pemain tengah.


3. Tut Wuri Handayani

Yang berarti dari belakang memberi motivasi. Motivasi penting untuk membangun kepercayaan pada diri pemain. Seorang pemain bola harus memberi motivasi untuk pemain lainnya dengan vokal. Berbeda dengan semangat, motivasi itu seperti 'something worth fighting for'. Sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Motivasi bisa berupa hadiah atau lain lain untuk meningkatkan semangat para pemain. Dari belakang seorang pemain bola harus selalu mengingatkan untuk apa kita bermain, untuk apa kita memenangkan pertandingan, untuk apa kita ada diatas lapangan. Support para pemain dengan motivasi dan pemain tersebut akan berjuang habis habisan di atas lapangan guna memenuhi kata kata pemain yang memotivasi tersebut.


3 kata tersebut sangat penting untuk dimiliki setiap pemain Sepakbola. Kepribadian yang tercermin dari 3 kata di atas harus diaplikasian di dunia nyata, dan bukan tidak mungkin jika pemain berhasil mengaplikasikan 3 kata tersebut, prestasi akan selalu menghampirinya baik individual atau tim.



Jumat, 01 Mei 2015

Azpilicueta, Inverted back ciptaan Mourinho.

Chelsea musim ini sangat digdaya, mereka berhasil duduk di peringkat 1 semenjak Agustus 2014. Kehebatan Tim London Barat tersebut mungkin saja berkat sang golden boy Eden Hazard, sang kreator Cesc Fabregas, top skorer Diego Costa atau sang pelatih sendiri Jose Mourinho. Namun sepakbola adalah tentang kerjasama tim baik dalam bertahan ataupun dalam penyerangan. Pemain yang penulis sebutkan diatas memang semuanya berkontribusi dalam lini serang The Blues. Tapi kali ini penulis akan membahas tentang lini pertahanan Chelsea yang katanya disebut kokoh dan rapat. Salah satu pelaku dari pertahanan Chelsea yang ibarat "bus" tersebut adalah Cesar Azpilicueta sang fullback.

Cesar Azpilicueta Tanco adalah seorang fullback kanan asal Spanyol yang dibeli Chelsea dari Marseille dengan harga 6,5 juta Pounds. Kala itu Azpilicueta bergabung bersamaan dengan 3 pria Spanyol lainnya, Fernando Torres, Juan Mata dan Oriol Romeu. Tidak ada yang mengetahui siapakah pria berumur 25 tahun ini. Namanya tidak begitu mengkilap. Masuk timnas pun jarang. Namun ketika Chelsea membelinya barulah penulis tahu kalau 6,5 juta pounds yang keluar dari kas Chelsea tidak sia sia dan bahkan terasa murah dibandingkan performanya. Baru musim pertamanya di Chelsea. Azpili langsung mempersembahkan gelar Liga Champions dan Piala FA. Ketika Tim London Biru tersebut diambil alih manajer Rafael Benitez, Pria Spanyol ini juga rajin mengisi starting line up Chelsea. barulah ketika sang The Only One Jose Mourinho datang, Azpilicueta didepak dari posisi bek kanan. Namun didepak bukan berarti dibangku cadangkan. Hanya dipindahkan posisinya menjadi Fullback kiri.

Entah apa yang ada dipikiran Jose Mourinho ketika itu. Ia malah memilih Ivanovic sebagai bek kanan (walaupun hasilnya sangat memuaskan) namun itu malah menambah masalah baru : Bagaimana dengan Azpilicueta yang sangat konsisten performanya?. Dan ia menjawabnya dengan membangku cadangkan Ashley Cole dan memainkan Azpilicueta di pos fullback kiri yang selama ini menjadi pos reguler Cole. Namun apakah ini benar? Apakah memainkan bek kanan di posisi kiri itu benar? well, pada musim pertama Mourinho di Chelsea, setidaknya hal itu benar. Chelsea meraih pos 8 besar di Liga Champions dan meraih posisi 3 di BPL. Walau tidak meraih titel apapun. Setidaknya catatan itu membuktikan kalau Azpilicueta sudah matang di pos bek kiri, dan musim ini ia bisa membuktikannya. Memenangkan titel Capital One Cup dan (mungkin) memenangkan titel Premier League bisa menjadi bukti bahwa mantan pemain Osasuna tersebut bisa dan sangat layak berada di posisi fullback baik kanan maupun kiri. Jose Mourinho harus terus memberikan dukungan, support dan motivasi pada anak didiknya itu dan ketika kita (Fans Chelsea) senang melihat penampilan Azpilicueta yang terus terusan konsisten di sisi kiri Chelsea, mungkin hanya satu orang yang tidak. Yaitu Filipe Luis (bek kiri baru Chelsea) yang gigit jari sambil melihat Azpilicueta dari bangku cadangan.

Melirik Kehebatan Skuat Inggris Tahun Ini

Legend says that football was born in England. Itulah mengapa dari sejak jaman dahulu, Inggris diisi banyak talenta hebat, kita mengenal nama nama Sir Bobby Charlton, George Best, Denis Irwin, Michael Owen, John Terry, dll semua pernah menghias nama Legenda Inggris dari masa ke masa. Tidak heran kalau kekuatan sepakbola Inggris begitu disegani. Tidak hanya di Eropa, seluruh dunia mengakui kekuatan Inggris. Inggris bahkan pernah sekali menjadi raja sepakbola di piala dunia tahun 1966. Namun belakangan ini kita tidak melihat lagi kekuatan Inggris yang begitu superior, Inggris yang dahulu bukanlah yang sekarang. Hasil kurang memuaskan di Piala Dunia tahun 2014 lalu sebagai juru kunci grup cukup sebagai bukti bahwa Inggris bukan lagi tim sepakbola yang hebat. Peringkat Inggris di Rangking FIFA bahkan keluar dari 20 besar, sungguh bukan prestasi yang baik bagi tim nasional sekelas Inggris.

Sekarang marilah kita melirik bagaimana skuat Inggris sekarang ini mulai dari posisi kiper. Posisi kiper saat ini dipegang oleh palang pintu Manchester City, Joe Hart. Joe Hart sudah lama menjabat posisi inti di skuat tiga singa. Ketiadaan pesaing yang setara menjadi buktinya. Pemain yang sekarang mengancam posisi Joe Hart hanya Ben Foster, kiper WBA dan Fraser Forster, palang pintu baru Southampton. Forster bisa jadi yang paling mengancam Joe Hart karena performanya di Southampton yang luar biasa musim ini. Mantan pemain Glasgow Celtic ini meraih Cleansheet terbanyak di BPL musim ini. Kalau performanya terus seperti ini, bukan tidak mungkin Hodgson akan memanggilnya sebagai kiper inti di pertandingan internasional berikutnya.

Posisi bek saat ini masih selalu sama sebenarnya. Duet Gary Cahill-Phil Jagielka dengan fullback Leighton Baines di sisi kiri dan Glen Johnson di kanan. Trio bek tengah United bisa mengancam posisi Cahill-Jagielka adalah Smalling, Phil Jones dan Jonny Evans. Smalling yang semakin matang bersama United bisa mengancam posisi Jagielka. Sementara Cahill yang konsisten bersama Chelsea mungkin tidak tergantikan. Belum ditambah kehadiran pemain baru bernama John Stones yang tampil apik bersama Everton bisa menambah seru perebutan 2 bek tengah Inggris. Leighton Baines yang tampil apik di posisi kiri sebenarnya tak tergantikan mengingat ia adalah bek kiri terbaik Inggris saat ini setelah Ashley Cole yang pensiun, Kieran Gibbs rentan cidera sementara Luke Shaw masih belum matang betul dan harus lebih banyak pengalaman untuk bisa membela Inggris.
 Glen Johnson yang penampilannya masih kurang baik bersama Liverpool harus dicarikan pengganti yang sepadan. Beruntung Hodgson sudah menemukannya. Adalah bek kanan Southampton bernama Nathaniel Clyne, Bek baru Arsenal Calum Chambers  dan pemain Tottenham Hotspur bernama Kyle Walker yang cocok menjadi fullback kanan Inggris. Namun cidera yang sering menghampiri Kyle Walker mempersulit bek kanan itu bersaing memperebutkan posisi bek kanan. Alhasil tersisa Chambers dan Clyne. Hodgson lah yang punya PR memilih siapa  salah satu dari dua orang ini yang siap mengisi fullback kanan Inggris atau malah masih percaya dengan Glen Johnson.

Posisi inilah yang sebenarnya paling sulit dipilih di Inggris. Posisi gelandang. Banyak sekali talenta gelandang mumpuni di Inggris. Mengingat Gerrard dan Lampard yang sudah pensiun, maka posisi ini posisi ini sebenarnya menjadi lebih mudah diisi oleh siapa saja, karena kurangnya pemain konsisten macam Stevie G dan Frankie. Jordan Henderson adalah salah satu gelandang yang cukup konsisten di lini tengah. Dimainkannya dia di semua pertandingan Liga cukup menjadi bukti bahwa Calon kapten masa depan Liverpool ini layak menghuni skuat Tiga Singa. Carrick bisa menjadi penopang Henderson di lini tengah. Kehadirannya di lini tengah setan merah cukup meyakinkan Hodgson untuk memasukan namanya di timnas England. Barkley bisa menjadi gelandang ketiga Inggris kalau Hodgson memakai formasi gelandang serang. Kecepatan dan olah bolanya sangat baik ditambah kekuatan tubuhnya cocok untuk permainan England yang menggempur lawan. Nama nama lain seperti Fabian Delph, Ryan Mason dll cocok dipertimbangkan. Sekali lagi, ini adalah keputusan Hodgson.

Posisi sayap Inggris mungkin salah satunya yang paling banyak diperebutkan. Tercatat Sterling, Ashley Young, James Milner, Theo Walcott, Alex Oxlade Chamberlain, Aaron Lennon, Adam Lallana dan Andros Townsend adalah sedikit banyak dari pemain sayap Inggris. Semua memiliki kelebihan masing masing. Kalau Inggris ingin memakai pemain sayap yang eksplosif dalam kecepatan, Inggris bisa menggunakan Sterling/Lennon dan Walcott/Chamberlain. Inggris ingin sayap yang baik dalam bertahan bisa menggunakan kombinasi Milner-Chamberlain atau ingin pemain sayap Inverted yang bisa cutting inside, Inggris bisa menggunakan kombinasi Sterling-Townsend. Banyak sekali pilihan tergantung kondisi dan lawan yang dihadapi dan Hodgson tinggal memilih pemain mana yang ingin ia pakai.



Posisi striker Inggris juga diisi banyak pemain, seperti Kapten Wayne Rooney, Rickie Lambert, Daniel Sturridge, Danny Welbeck, termasuk golden boy yang baru baru ini mencuat namanya Harry Kane. Belum ditambah kehadiran Jay Rodriguez, Saido Berahino, Danny Ings dan Charlie Austin menambah banyak daftar persaingan merebut posisi Striker. Sturridge yang ketika piala dunia 2014 menjadi striker inti kini harus melawan nama nama baru yang tidak kalah hebat dari dirinya. Hodgson harus selektif memilih striker tergantung situasi dan kondisi. Rooney adalah tipikal second striker yang gemar turun membantu pertahanan, Sturridge dan Welbeck adalah tipikal striker yang yang mengandalkan kecepatan untuk membongkar pertahanan. Harry Kane adalah tipikal striker poacher, sementara Rickie Lambert adalah Target Man yang siap menyambut bola bola atas.


Semua tergantung daripada Roy Hodgson untuk memilih pemain yang tepat untuk persepakbolaan Inggris. Piala Eropa 2016 adalah pembuktian Hodgson sejauh mana Inggris bisa melangkah di gelaran sepakbola terbesar se-Eropa. Apakah Inggris akan mempertahankan prestasi minimnya seperti di Piala Dunia? Ataukah melambung tinggi seperti Jerman dan Argentina?  Well, we’re wait for it.