Kamis, 27 Agustus 2015

3 Klub Sang Gajah...

"Leicester City bagaikan seekor gajah diatas pohon. Gak ada yang tau gimana caranya dia bisa sampai diatas sana, tapi pasti dia akan jatuh."

Saya mendapat tweet di atas kira kira beberapa hari yang lalu, yang membuat tweet diatas adalah sebuah akun sarcasm tentang sepakbola. Mereka sarcasm tentang apa saja yang pantas untuk ditertawakan. Entah itu sebuah klub, kebijakan transfer, wasit, pemain, pelatih sampai FIFA sekalipun mereka sarkasme.

Tweet diatas diuanggah kira kira ketika pekan kedua BPL berlangsung. Leicester pada pekan pertama berhasil membantai Sunderland 4-2 dan pada pekan kedua berhasil juga membuat West Ham bertekuk lutut dengan skor 2-1.

Hal inilah yang membuat Leicester secara tak terduga tiba tiba nongkrong di peringkat 1 klasemen. Pencapaian ini tentunya membuat fans gembira. Tim yang musim lalu baru saja promosi ke BPL tahu tahu merangsek ke peringkat 1, walau baru awal musim.

Memang laga laga awal musim bisa menjadi patokan untuk laga selanjutnya. Namun melalui 38 pertandingan BPL bukanlah sesuatu yang mudah sama sekali. 2 laga awal belum tentu menasbihkan kemenangan bagi sebuah tim. Apalagi Leicester adalah tim papan bawah, dan semua tim papan bawah punya masalah yang sama : Inkonsistensi pada pertengahan musim.

Hal yang sama juga berlaku untuk SD Eibar atau FC Astana di Liga Champions. Eibar yang baru awal musim sudah menang 3-1 melawan Granada menempatkan klub tersebut di puncak klasemen La Liga. FC Astana pun demikian. Kemenangan melawan APOEL Nicosia secara mengejutkan membuat klub asal Kazakhstan tersebut tampil perdana di Liga Champion. Kemenangan ini juga sekaligus membuat rekor klub Kazakhstan pertama yang tampil di Liga Champion tersebut. Apalagi FC Astana adalah klub yang baru berusia 6 tahun alias baru berdiri tahun 2009!!

Pengibaratan gajah diatas pohon juga bisa kita aplikasikan pada Eibar dan FC Astana. Entah keberuntungan atau kerja keras yang membuat mereka bisa ada di "atas pohon". Akan tetapi, kalau ketiga klub tersebut tidak ingin "jatuh lebih awal". Maka harus ada usaha lebih dari mereka. Mungkin adalah keajaiban jika mereka bisa ada diatas pohon. Namun keajaiban tanpa diiringi kerja keras, hanya akan membuat sang gajah jatuh lebih keras dari atas pohon. 


Rabu, 26 Agustus 2015

Beruntungnya AC Milan Punya Balotelli (Lagi)

Teka teki Balotelli akan pindah ke klub mana akhirnya terjawab sudah. Pemain yang berjuluk "Super Mario" ini akhirnya pulang ke kampung halamannya di Italia. Ia membela klub lamanya, AC Milan pada musim 2015-2016.

Pemain bernomor punggung 45 tersebut memang sudah lama dikaitkan akan pindah dari klub raksasa liga Inggris, Liverpool. Setelah hanya membukukan 1 gol di BPL musim lalu, pemain berpaspor Italia ini rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Liverpool. Terlebih kedatangan Christian Benteke dan Danny Ings serta Divock Origi membuat Liverpool kelebihan pemain di posisi lini serang. Balotelli memang sudah dikaitkan dengan Fiorentina, namun fans klub asal Florence tersebut enggan klubnya membeli Balotelli lantaran sikapnya yang pernah menghina klub berjersey ungu tersebut.

Liverpool pun pasrah. Mungkin Balotelli akan seperti Valdes di MU. Sudah posisinya tidak jelas, tidak diberi nomor punggung, juga tidak ada klub yang mau memakai jasanya. Kasian sekali si Valdes ckckck...

Tawaran pun datang dari AC Milan. Entah hal apa yang merasuki Sinisa Mihajlovic sehingga ingin mendatangkan Mario Balotelli. Padahal klub mereka sudah banjir stok penyerang dengan striker macam Allesandro Matri, Luiz Adriano, Carlos Bacca sampai Jeremy Menez. Namun begitulah Mihajlovic. Dirinya mungkin takut kalau kalau Bacca dan Luiz kurang bisa beradaptasi dengan iklim Serie A musim ini. Alhasil, mendatangkan striker asal negeri Pizza sendiri, yang sudah makan asam garam dalam adaptasi adalah hal yang agak menguntungkan bagi AC Milan. Sekalipun strikernya adalah Balotelli.

Tapi jangan salah, Begini-gini Balotelli juga pernah menjadi ujung tombak favorit AC Milan. Balotelli pernah memperkuat tim peraih 7 kali gelar Liga Champions tersebut pada pertengahan musim 2012-2013 sampai akhir musim. Meskipun hanya bermain 43 kali, pemain berdarah Ghana tersebut mampu mencetak 26 gol. Dirinya sempat menjadi top skor AC Milan kala itu.

Bayangkan bagaimana jadinya jika ia bermain semusim penuh. Musim 2014-2015 mungkin menjadi musim yang kurang meng-enakkan baginya. Keran golnya macet ketika kembali ke Inggris. 16 juta pounds yang dikeluarkan Liverpool agaknya sia sia karena performa Balotelli yang turun drastis.

Musim 2015-2016 menjadi pembuktian bagi dirinya. Pemain yang membawa Italia ke final Euro 2012 ini harus bisa membuktikan bahwa dirinya masih menjadi striker papan atas Eropa. Sekali tepuk dua lalat, kembalinya ia ke Milan juga bisa menjadi wadah pertunjukan buat Antonio Conte agar memasukkan namanya pada skuad Italia di gelaran Piala Eropa 2016 di Prancis. Milan juga ternyata beruntung. Disamping berhasil membawa pemain yang pernah menjadi top skor timnya dengan harga gratis alias pinjam, Milan juga hanya membayar 2 juta gaji Balotelli per tahun dari 6 juta gaji Balotelli aslinya, sementara sisanya dibayar Liverpool. Ah, beruntung sekali AC Milan punya Balotelli (lagi).

Selasa, 18 Agustus 2015

Tepatkah Chelsea Membeli Baba?

Kepergian Filipe Luis yang kembali ke Atletico Madrid ternyata berdampak agak serius bagi Chelsea. Persaingan kurang sehat yang terjadi lantaran minimnya jumlah bek sayap menjadi salah satu penyebab mengapa Chelsea kelimpangan di 2 pertandingan awal pagelaran Barclays Premiere League. Namun hal ini tak membuat Jose Mourinho kebingungan. Dirinya langsung dengan sigap mencari bek sayap baru. Sejumlah nama seperti Van Der Wiel dan Baba Rahman dikaitkan merapat ke klub pemenang 5 kali BPL tersebut. Nama terakhir akhirnya resmi memperkuat Chelsea musim 2015-2016. Ya, pemain bernama lengkap Abdul Baba Rahman ini resmi mendarat di Stamford Bridge dengan mahar 20 juta euro dan mengenakan seragam bernomor 17 pada musim depan.

Baba mengawali karir di Eropa pada kesebelasan Jerman, Greuther Furth. Bermain untuk kesebelasan yang berlaga di Bundesliga jelas adalah salah satu keistimewaan sendiri untuk pemain berpaspor Ghana ini. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, Greuther Furth yang mengakhiri musim sebagai juru kunci terpaksa harus turun kasta ke divisi dua Bundesliga. Pun begitu pula dengan Baba.

Akhirnya Baba, pada musim 2013-2014 harus bermain untuk divisi dua Bundesliga. Dan ternyata dirinya tampil menawan pada gelaran musim tersebut. Greuther Furth dibawanya duduk di peringkat 3 musim 2013-2014 dan harus tampil pada laga playoff Bundesliga melawan Hamburger SV.

Sayangnya Greuther Furth harus kalah pada laga melawan Hamburger SV. Mereka harus mengulang musim yang sama di divisi 2. Namun tidak dengan Baba.

FC Augsburg yang terpincut dengan performanya lantas membeli pemain berumur 21 tahun tersebut dengan mahar 2,5 juta euro. Jumlah yang cukup lumayan mengingat pemain ini masih sangat
 muda dan bermain untuk divisi 2 Bundesliga. Hal ini tentu saja langsung dibalas oleh Baba. Ia bermain sangat baik pada gelaran Bundesliga tahun lalu. Baba Rahman, menurut WhoScored, adalah pemain dengan tackle terbanyak pada musim lalu (109 tackle). Dirinya juga turut ambil bagian penting dalam kesuksesan Augsburg duduk di peringkat 5 gelaran Bundesliga musim 2014-2015. FC Augsburg juga tercatat hanya kebobolan 43 kali pada musim tersebut, atau terbaik ke 8 di Bundesliga. Atas pencapaian ini, Augsburg akhirnya memperoleh haknya untuk bermain di gelaran Europa League musim depan. Dan hal ini bisa jadi tak akan tercapai jika tak ada nama Abdul Baba Rahman di posisi bek kiri Augsburg musim lalu.

Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan Jose untuk merekrutnya pada bursa transfer musim ini. Kita tahu bahwa Ivanovic sepertinya mulai kehilangan kecepatannya kalau dilirik dari performanya dalam 2 laga awal BPL. Dirinya seperti tidak sanggup melawan kecepatan Jefferson Montero dan Raheem Sterling ketika laga Chelsea melawan Swansea dan Manchester City. Kehadiran Baba dalam skuad Jose Mourinho akan membawa angin segar dalam pertahanan Chelsea. Baba Rahman dikenal sebagai bek sayap yang cepat dan mempunyai crossing akurat. Dengan dirinya ditempatkan di sisi kiri dan Azpilicueta dikembalikan ke posisi aslinya yaitu bek sayap kanan. Chelsea sudah menyelesaikan masalah pertamanya yaitu kurangnya pengisi bek sayap yang selama ini hanya diisi oleh Azpilicueta dan Ivanovic.

Dengan kecepatannya, Baba tentu saja bisa merebut bola dengan mengambilnya tanpa perlu tackling, namun catatan diatas berkata lain. Baba yang punya catatan tackling tinggi tentu saja beresiko menerima kartu kuning. Hebatnya, musim lalu Baba hanya menerima 4 kartu kuning saja!!. Hal ini berarti Baba sudah tahu bagaimana cara merebut bola atau men-tackle lawan dengan bersih tanpa perlu dengan kekerasan.

Agaknya, 20 juta Euro yang dikeluarkan Jose Mourinho tak sia sia. Baba adalah bek sayap cepat dan bertalenta yang dibutuhkan Chelsea saat ini. Jikalau Chelsea bisa mempertahankan gelar BPL dan merebut gelar FA serta Liga Champions. Rasanya Chelsea yang bersyukur membeli salah satu bek potensial dunia dengan harga HANYA 20 juta euro...


Kovacic Akan Akrab Dengan Bangku Cadangan.

Belum lama ini, Inter Milan dan Mancini sudah memberi indikasi jika pemain mereka, Mateo Kovacic akan segera dijual untuk memenuhi aturan Financial Fair Play. Inter Milan memang sudah diperingatkan FIFA akan aturan FFP setelah mereka membeli Kondogbia dan meminjam Jovetic. Akibatnya 3 pemain mereka, Podolski, Shaqiri dan Kovacic harus hengkang dari klub yang bermarkas di kota mode tersebut. Podolski akhirnya bergabung ke Galatasaray, Shaqiri dengan tragis harus hijrah ke tim papan tengah, Stoke City sementara Kovacic yang "beruntung" menerima pinangan raksasa liga Spanyol, Real Madrid.

Nasib memang selalu ada 2 sisi yang berbeda. Beberapa mengira kalau Kovacic tak seperti rekannya, Shaqiri yang bermain untuk klub kecil dan minim trophy. Kovacic yang bermain di klub sebesar Real Madrid sudah pasti mendapat jaminan trophy setiap musimnya. Masalah gaji pun sudah pasti lebih besar ketika ia bermain untuk Internazionale.

Namun ada sisi yang lain lagi yang harus dihadapi Kovacic. Ia harus bersaing dengan banyaknya nama besar yang sudah pasti lebih berpengalaman dan lebih hebat daripadanya. Shaqiri mungkin hanya akan bersaing dengan Ibrahim Affelay atau Marko Arnautovic untuk memperebutkan posisinya. Namun Kovacic harus bersaing dengan nama nama seperti Toni Kroos, Luka Modric, James Rodriguez dan Isco Alarcon. Jangankan dengan nama nama itu yang sering hinggap di starting 11. Dengan nama macam Casemiro, Lucas Silva atau Asier Illaramendi saja mungkin Kovacic harus kerja keras.

Namun Inter Milan juga tak sepenuhnya salah. Real Madrid memberikan penawaran yang paling tinggi untuk pemain bernomor punggung 10 tersebut. Walaupun pada peresmian dari website tak disebutkan nominal harganya, diyakini harga Mateo Kovacic adalah lebih dari 30 juta euro.

Berhadapan dengan nama besar yang disebutkan diatas, Mateo Kovacic sepertinya akan akrab dengan bangku cadangan. Akan tetapi melihat daftar riwayat cidera yang dialami Luka Modric, bisa jadi kesempatan bermain akan sering diturunkan padanya, itupun ia harus berhadapan dengan Lucas Silva atau Illaramendi dahulu. Jadi, selamat mengakrabkan diri di bangku cadangan, Kovacic...

Senin, 17 Agustus 2015

Bulan Bulanan Pada Ivanovic.

Agaknya para manajer klub-klub BPL tahu bagaimana caranya untuk melawan Chelsea. Taruh saja pemain sayap cepat yang sering melakukan tusukan ke dalam. Maka bek bek sayap Chelsea akan kewalahan menghadapinya. Mungkin Azpilicueta masih bisa menghadangnya, namun bagaimana  dengan Ivanovic?. Berkaca dari dua laga Chelsea kemarin, agaknya Ivanovic sedang menghadapi mimpi paling buruknya. Minggu lalu Jefferson Montero menjadi pelaku bagaimana ia sering atau dengan mudahnya melewati bek kanan berusia 31 tahun tersebut. Pemain berkebangsaan Ekuador ini punya dribbling dan speed yang jauh diatas Ivanovic. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab Chelsea gagal menang melawan Swansea pada laga pertama Premiere League.

Hal serupa terjadi kemarin pada laga Chelsea vs Manchester City. Pelaku kali ini adalah Raheem Sterling, pemain berharga 49 juta Poundsterling. Sterling memang tidak mencetak gol atau membuat assist malam itu, tapi nampaknya melewati Ivanovic adalah suatu pekerjaan mudah baginya. Berkali kali Sterling melakukan dribbling menusuk kedalam yang gagal diantisipasi Ivanovic. Nampaknya Ivanovic sudah menjadi salah satu kelemahan Chelsea dalam gelaran BPL kali ini.

Situasi ini tentu tidak akan dibiarkan Jose Mourinho selaku pelatih kepala. Berkali kali Chelsea dikaitkan dengan kepindahan Gregory Van Der Wiel dari PSG atau Abdul Rahman Baba dari Augsburg. Hal ini dilakukan Chelsea untuk menambal celah yang dibuka Ivanovic. Nama kedua bahkan sudah dinyatakan deal oleh beberapa media kenamaan Inggris.

Ivanovic memang hanya manusia, ia sedang mengalami penurunan performa. Namun untuk klub sebesar Chelsea, penurunan performa tidak bisa berlangsung lama. Ia harus segera bangkit untuk meningkatkan kemampuan bertahannya lagi, khususnya melawan pemain yang lebih cepat daripadanya. Kedatangan Abdul Rahman Baba atau Van Der Wiel bisa saja akan meningkatkan kemampuan kompetisinya agar dirinya tidak sering berada di bangku cadangan. Namun sebelum dua pemain itu datang, nampaknya posisi bek kanan harus diisi oleh Juan Cuadrado dulu deh...

Minggu, 16 Agustus 2015

Perbedaan Beban Pogba dan Aguero.

Mengganti nomor punggung tentu sah sah saja jika musim baru sudah bergulir. Musim lalu, Eden Hazard milik Chelsea mengganti nomor punggung 17 miliknya dengan nomor 10. Musim ini, wonderkid MU asal Belanda, Memphis Depay juga mengganti nomor punggung 9 miliknya yang ia pakai ketika pramusim, dengan nomor keramat yang pernah dipakai Angel Di Maria, nomor 7.

Sama halnya dengan Depay atau Hazard dua musim lalu, Pogba dan Aguero juga mengganti nomor punggung mereka. Mereka berdua memakai nomor punggung 10 pada musim berikutnya. Selain mempunyai beban lain yang harus ditanggung, hal ini juga mengindikasikan jika pemain tersebut tidak akan dijual musim ini. Tentunya Fans Barcelona bersedih ketika mereka yang harusnya melihat Pogba bermain untuk kesebelasannya, malah memakai nomor punggung keramat di Juventus Stadium.

Meskipun keduanya memakai nomor punggung 10, perbedaan beban keduanya jelas terlihat. Pogba memiliki beban yang lebih besar karena jelas, banyak legenda Juventus atau pemain besar yang sukses ketika mereka memakai nomor punggung tersebut. Nama nama seperti Roberto Baggio, Allesandro Del Piero, sampai mantan nomor 10 mereka, Carlos Tevez adalah beberapa dari mereka yang sukses memakai nomor punggung 10 di jersey mereka. Hal inilah yang akan menjadi beban untuk Paul Pogba. Pemain berkebangsaan Prancis ini dituntut untuk memberikan kesuksesan bagi timnya dan selalu bermain apik di setiap laganya. By the way, Pogba sudah berhasrat untuk memakai nomor 10 bahkan ketika Juventus masih dilatih Antonio Conte. Conte berpesan jika yang pantas memakai nomor ini adalah Claudio Marchisio, karena ia adalah pemuda didikan Juventus dan sudah sangat lama membela kesebelasan Nyonya tua tersebut.

Lain halnya dengan Sergio Aguero. Pemain berkebangsaan Argentina yang musim lalu memakai nomor punggung 16 kini memakai nomor 10 karena pemilik sebelumnya, Edin Dzeko hijrah ke AS Roma musim ini. Beda dengan Pogba yang penuh dengan beban karena suksesornya, Aguero tidak perlu risau karena ia sudah lebih hebat dari para pendahulunya. Aguero adalah pahlawan untuk City dalam mencetak gol ketika mereka juara BPL tahun 2012. Ia juga sudah memenangkan 2 kali BPL, 1 kali Community Shield, 2 kali beruntun masuk final Piala dunia serta piala Copa America, Silver shoes Copa America 2015, Juara piala dunia U-20 FIFA serta Topskorer dan pemain terbaik, Menang Liga Eropa dan Piala Super UEFA, serta meraih penghargaan Golden Boy FIFA tahun 2007. Siapa pemain Manchester City lain pemakai nomor 10 yang punya raihan individual sebanyak itu?. Sergio Aguero adalah pemain nomor 10 terbaik sepanjang masa Manchester City dan rasanya dengan catatan tersebut, Aguero tidak perlu panik akan beban para suksesor nomor 10 Manchester City...

Kamis, 06 Agustus 2015

North West Derby Yang Bakalan Lebih Seru.

Jika ditanya pertandingan derby apa yang paling seru, semua orang kemungkinan serempak akan menjawab El Classico asal Spanyol. Derby Eropa Selatan yang mempertemukan Real Madrid dan FC Barcelona ini memang tercatat sebagai pertandingan sepakbola dengan penonton terbanyak di muka bumi. Selain itu dalam derby inilah kita akan menemukan dua pesepakbola terbaik sekolong langit pada abad ke 21, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Tapi kita tidak akan membahas Derby termewah sedunia tersebut, melainkan derby terpanas setanah Inggris, pertandingan dengan tensi paling tinggi se-Britania raya, serta pertandingan yang mempertemukan 2 klub dengan raihan trofi liga paling banyak di Liga Inggris. Yap, pertandingan tersebut bernama North West Derby atau pertandingan sepakbola antara Liverpool FC melawan Manchester United.

Alasan mengapa dinamakan North West Derby mungkin adalah kedua kota tersebut berada di barat laut Inggris (North West = Barat laut). Liverpool merupakan kota pelabuhan yang super sibuk, sementara Manchester adalah kota industri tekstil terkemuka di Inggris. Kalau di Indonesia, kedua kota ini mungkin ibarat Tanjung Prioknya Jakarta dengan Cihampelasnya Bandung XD...

Sejak jaman dahulu, memang persaingan klub antara Liverpool dengan Manchester United memang sangat sangat panas. Jumlah trofi keduanya yang beda beda tipis mungkin menjadi salah satu alasan. Sampai sekarang, MU berhasil mengoleksi 20 trofi Liga Inggris serta 3 trofi Liga Champion. Sementara Liverpool sukses menjuarai 18 kali Liga Inggris serta 5 kali menjadi kampiun Eropa. Perbedaan yang sangat tipis bukan?

Musim ini saya pastikan jika North West Derby akan kembali seru seperti biasanya. Namun ada hal yang akan membuat derby ini kembali menjadi lebih seru, bukan karena sejarah atau emosi dari fans maupun pemain. Melainkan banyaknya pemain pemain baru yang dibeli kedua kesebelasan.

Hingga tulisan ini diturunkan, MU berhasil mendaratkan 5 pemain. Diantaranya Memphis Depay, Matteo Darmian, Sergio Romero, Bastian Schweinsteiger serta Morgan Schneiderlin (belum ditambah Pedro yang katanya bakal teken kontrak beberapa hari lagi). Liverpool yang tidak mau kalah berhasil mendaratkan 7 pemain. Christian Benteke, Roberto Firmino, Danny Ings, James Milner, Adam Bogdan, Joe Gomez dan Nathaniel Clyne serta 1 pemain muda, Allan Rodriguez sudah berhasil dibeli Brendan Rodgers demi mengarungi musim depan. Nampaknya kedua tim akan sangat serius untuk berburu gelar musim 2015-2016.

Bertambahnya pemain baru bagi kedua tim jelas membuat intens pertandingan menjadi lebih panas. Pemain baru kedua kesebelasan pasti akan lebih bersemangat jika mendengar pertandingan melawan Liverpool atau MU.  Apalagi beberapa pemain tersebut banyak yang belum tahu pemain pemain Liverpool atau MU. Pasti mereka akan meminimalisir kesalahan sekecil apapun, dan bertarung habis habisan.

Sudah pasti kalau pertandingan yang mempertemukan 2 tim dengan gelar paling banyak di liganya akan sangat seru, hal yang sama juga terjadi di Inggris. Liverpool vs MU adalah salah satu pertandingan sepakbola paling layak tonton di BPL. Apakah pada musim depan akan terjadi demikian? Well, jawaban paling singkat bisa kita lihat pada tanggal 12 september nanti pada pekan kelima Liga Inggris, Setan Merah akan menghadapi tamunya si Bangau di Old Trafford. So, sit down on your seat, and let the battle begins...


Selasa, 04 Agustus 2015

Falcao dan Singa di Alam Bebas.

Community Shield musim 2015-2016 sudah berakhir dengan menasbihkan Arsenal sebagai juaranya. Gol Chamberlain pada menit 24 sudah cukup untuk menahan Chelsea FC, juara BPL musim 2014-2015. Namun ada beberapa pemain yang tampil flop pada laga yang berkesudahan 1-0 tersebut. Selain Loic Remy yang tidak bisa berbuat banyak karena pressing Koscielny, dan Fabregas yang kemarin sering melakukan kesalahan passing, pemain terbaru Chelsea, Radamel Falcao pun sama buruknya seperti 2 pemain yang disebutkan diatas.

Masuk pada babak kedua melawan Arsenal, Falcao pun tidak bisa berbuat banyak menerobos pertahanan Arsenal. Ia bahkan mendapat kartu kuning karena menciderai Mikel Arteta. Sering kehilangan bola saat sentuhan pertama, juga sering kalah adu fisik melawan Monreal dan Mertesacker, membuat Falcao layak diberikan 2 jempol kebawah oleh para fans. Agaknya mantan pemain Manchester United ini masih belum bisa bermain lepas dari tekanan cidera yang pernah dideritanya. Ya, Falcao pernah menderita cidera ligamen lutut atau ACL membuat dirinya trauma. Trauma inilah yang membuat dirinya tidak sehebat kala ia bermain untuk Atletico atau Porto beberapa tahun lalu. Cidera ini dideritanya kala ia masih bermain untuk kesebelasan asal Prancis, AS Monaco.

Kala itu Falcao yang sangat ingin bermain di piala dunia 2014 di Brazil mengupayakan segala cara agar dirinya bisa sembuh total sebelum perhelatan akbar 4 tahunan tersebut digelar. Pemain yang dipanggil El Tigre tersebut sampai pergi ke dokter khusus yang menangani cidera ACL untuk pemain sepakbola. Falcao mungkin sembuh 90 persen, pelatih Jose Pekerman bahkan membolehkan ia bermain membela Kolombia di Piala Dunia. Namun dirinya yang tidak ingin terlalu memaksakan diri akhirnya menolak permintaan tersebut demi kesembuhan dirinya. Akhirnya Kolombia mengikuti Piala Dunia tanpa striker utama mereka, Radamel Falcao. Posisi nomor 9 pun diganti oleh striker muda potensial, Theofillo Gutierrez.

Bermain untuk Manchester United pada musim lalu, Falcao tampil buruk pada musim perdananya di Liga Inggris. Dalam 26 pertandingan, Pemain berusia 29 tahun tersebut hanya mencetak 4 gol saja. Akhirnya kontraknya tidak diperpanjang oleh si Tulip Besi, Louis Van Gaal. Namun hal itu tidak menciutkan niat Jose Mourinho untuk membawanya ke Stamford Bridge. Alhasil Falcao berhasil dibawanya ke Stamford Bridge dalam masa peminjaman. Nomor 9 pun disematkan padanya, nomor yang sama kala ia berseragam MU musim lalu.

Dalam laga melawan Arsenal kemarin, kita bisa lihat kalau Falcao sesungguhnya tetap sama seperti kala ia berseragam MU. Ia tidak seperti El Tigre yang kita lihat kala ia berseragam Porto atau Atletico. Falcao mengingatkan saya akan cerita seekor singa yang terlalu lama berada di kebun binatang. Setiap hari ia diberi makan oleh penjinaknya sehingga ia kehilangan jiwa berburunya di alam bebas. Hingga suatu hari ketika ia terjebak di alam bebas, ia lupa cara cara berburu mangsa dan akhirnya mati tragis karena kelaparan. Perumpamaan Singa ini adalah Falcao. Ketika di Porto dan Atletico, ia dilayani oleh pemain pemain lain. Falcao hanya harus berdiri di kotak pinalti dan mencetak gol. Tugasnya hanyalah itu. Hingga ketika ia pindah ke MU, Falcao harus beradaptasi dengan gaya kepelatihan Van Gaal dan harus lebih banyak turun membantu pertahanan. Dirinya juga tidak kuasa melawan gaya pertahanan bek inggris yang keras dan tak kompromi pada lawan. Falcao serasa "mati" ketika ia bermain untuk MU.

Hal inilah yang harus dibuang jauh jauh oleh Mourinho atau Chelsea. Mereka harus lebih banyak membantu Falcao, membantunya mencetak gol demi gol akan meningkatkan rasa percaya dirinya, dan membuat Falcao serasa di rumah sendiri walaupun ia berada di "alam bebas". Kita tidak mau kan, kalau Falcao nantinya akan "mati dua kali" di Chelsea?.